Image default
Artikel Mutiara Hadits

Membersihkan Mani

Membersihkan Mani.

عَنْ عَائِشَةَ رضِي اللّه عنها،قالت:(( كَانَ رَسُوْلُاللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ الْمَنِيَّ، ثُمَّ يَخْرُجُ إلَى الصَّلاَةِ فِيْ ذَلِكَ الثَّوْبِ، وَأنَا أَنْظُرُ إِلَى أثَرِ الْغَسْلِ )) متفق عليه.

Dari Aisyah , ia berkata: Rasûlullâh pernah mencuci (bekas) air mani (yang ada di pakaian Beliau), kemudian Beliau keluar untuk shalat dengan mengenakan pakaian tersebut dan aku melihat bekas cucian.” (Muttafaq ‘alaihi).

 

Biografi Periwayat Hadits.

Beliau adalah ummul mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shidîq, Nabi menikahinya di Makkah setelah kematian Khadîjah binti Khuwailid.Rasûlullâh menikahi ‘Aisyah dalam umur enam tahun dan berkumpul sebagai suami istri ketika beliau berusia sembilan tahun (HR al-Bukhâri no. 5133 dan Muslim no 2438). Aisyah adalah istri tercinta Nabi dan beliau pernah bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Sesungguhnya keutamaan ‘Aisyah atas wanita lainnya seperti keutamaan tsarid (jenis makanan) atas makanan yang lainnya. (HR al-Bukhâri no. 3770 dan Muslim 2446)

Rasûlullâh pernah berkata kepada ummu Salamah :

يَا أُمَّ سَلَمَةَ لاَ تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ، فَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا نَزَلَ عَلَيَّ الوَحْيُ وَأَنَا فِي لِحَافِ امْرَأَةٍ مِنْكُنَّ غَيْرِهَا

Wahai Ummu Salamah jangan sakiti Aku pada ‘Aisyah, karena dia –demi Allah- tidak pernah wahyu turun kepadaku dalam keadaan aku dibawah selimut seorang wanita dari kalian selainnya. (HR al-Bukhâri 3775)

Demikian juga Rasûlullâh meninggal dunia pada hari giliran di rumah A’isyah dan bersandar kepada dada beliau.Pernikahan beliau dengan Nabi tidak memiliki anak dan berkunyah Ummu Abdillah.

Ummul mukminin terkenal sebagai ahli ilmu dan ulama besar sahabat dan meninggal dunia dengan meninggalkan ilmu yang sangat banyak sekali pada umat ini. Beliau wafat tahun 58 H di kota Madinah.

(lihat biografi beliau di al-Isti’âb 13/84, al-Ishâbah 13/39 dan Fathul Bâri 7/107).

 

Takhrij Hadits

         Hadits Aisyah ini diriwayatkan al-Al-Bukhâri (no. 229-230, 231, 232), Muslim (no.289), Abu Dawud (no. 373), Tirmidzi (no. 117), Nasâ-i (1/156), Ibnu Mâjah (no. 536) dan lain-lain banyak sekali. Semuanya dari beberapa jalan dari ‘Amru bin Maimun bin Mihran, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Sulaimân bin Yasâr tentang mani yang mengenai pakaian seseorang, apakah ia mencucinya atau mencuci pakaiannya?

Sulaimân bin Yasâr menjawab: ‘Aisyah telah mengabarkan kepadaku, sesungguhnya Rasûlullâhn … Ini adalah adalah lafazh imam Muslim.  Sedangkan lafazh al-Bukhâri dan Muslim dalam salah satu lafazh-nya diterangkan bahwa yang mencuci mani dari pakaian Rasûlullâh adalah ‘Aisyah, bukan Rasûlullâh. Tetapi Muslim hanya meriwayatkan sebagiannya saja, tidak lengkap seperti al-Bukhâri dengan lafazh:

عَنْ عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنِ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ ؟فَقَالَتْ : كُنْتُ أَغْسِلُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِيْ ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ .

Dari ‘Amru bin Maimun, dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang (hukum) air mani yang mengenai pakaian. Beliau menjawab: “Aku pernah mencucinya dari pakaian Rasûlullâh, kemudian Beliau keluar (ke masjid) untuk shalat, sedangkan bekas cucian tersebut masih tetap ada di pakaian Beliau, yaitu dua warna yang berbeda”.

Dalam hadits ini Sulaimân bin Yasâr menjelaskan pendengarannya dari ‘Aisyah. Hal ini adalah bantahan bagi orang yang menyatakan Sulaimân tidak mendengar hadits dari ‘Aisyah.

Memang Ibnu Mulaqqin pernah menukil dalam kitab al-Badrul munîr 2/232 dari al-Bazâr pernyataan al-Bazâr: Hadits ini diriwayatkan ‘Amru bin Maimûn dari Sulaimân dan Sulaimân tidak mendengar dari ‘Aisyah.

Oleh karena itu al-Haafizh Ibnu Hajar dalam fathul Bâri 1/334 menyatakan: pernyataan : “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah” berisi bantahan kepada al-Bazzâr ketika menganggap Sulaiman tidak mendengar hadits dari ‘Aisyah. al-Bazâr telah didahului ulama lainnya dalam anggapan ini. asy-Syâfi’i dalam kitab al-Umm menceritakan dari selainnya dan ada tambahan: Para ulama al-Hafizh berkata: ‘Amru bin Maimûn salah dalam menjadikannya hadits marfu’, yang benar itu fatwa Sulaimân.

kemudian al-Haafizh menyatakan lagi: Telah jelas keabsahan pendengaran Sulaimân dari ‘Aisyah dari penilaian shahih dari al-Al-Bukhâri terhadap hadits ini dan juga persetujuan Muslim dalam menilai hadits ini sebagai hadits shahih. Juga jelas kemarfu’annya shahih dan tidak ada kontradiksi antara fatwa dan riwayat Sulaimân ini. Demikian juga tidak ada pengaruhnya perbedaan antara dua riwayat tersebut, dimana salah satunya ‘Amru bin Maimûn telah bertanya kepada Sulaimân dan diriwayat lainnya Sulaimân bertanya kepada ‘Aisyah; karena setiap dari keduanya bertanya kepada gurunya, lalu sebagian perawi hafal yang tidak dihafal oleh yang lainnya dan semuanya tsiqat. (Tahdzîb at-Tahdzîb 4/230).

Ada riwayat lain dikeluarkan oleh Muslim (no. 290 (1/164, 165, 166), Abu Dawud (no. 371-372), Nasâ`i (1/156-157), Ibnu Mâjah (no. 537, 538, 539), Ahmad 6/152, Ibnul Jarûd dalam al-Muntaqa no. 136, ath-Thahâwi dalam Syarhu Ma’anil Atsâr 1/48, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no 288 dan Ibnu Hibân no. 1379 serta al-Baihaqi 2/416. Semuanya dari jalan al-Aswad bin yazid dari Aisyah x dengan lafazh :

أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ بِعَائِشَةَ، فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: «إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ، فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكًا فَيُصَلِّي فِيهِ»

Ada seorang menginap dengan ‘Aisyah lalu dipagi hari orang tersebut mencuci bajunya, lalu ‘Aisyah berkata: Sungguh cukup bagimu apabila melihatnya (mani) untuk mencuci yang terkena saja, apabila kamu tidak melihatnya maka basahilah sekitarnya. Sungguh aku dulu mengerik mani dari baju Rasûlullâh shalallahu ‘alaihi wa salam lalu beliau sholat menggunakan baju tersebut.

Hadits ini juga diriwayatkan dari jalan lainnya, diantaranya:

  1. jalan riwayat ‘Alqamah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dikeluarkan imam Muslim no. 288, Ibnu Khuzaimah no. 288, Ibnu Hibân no. 1379 dan al-Baihaqi 2/416.
  2. jalan riwayat Hammâm bin al-Hârits dari ‘Aisyah yang dikeluarkan oleh Abdurrazâq dalam al-Mushannaf no. 1439, Muslim no. 288, Ibnul Ja’d dalam Musnadnya no. 179, Abu Daud no. 371, an-Nasâ`i no. 297, 298, 299 , at-Tirmidzi no. 116, Abu ‘Awânah 2/205, Ath-Thahâwi dalam Syarhu Ma’anil Atsâr 1/48 dan Ibnu Khuzaimah no.288.
  3. jalan riwayat al-Hârits bin Naufal dari ‘Aisyah yang dikeluarkan oleh an-Nasâ`i no. 296, dan ath-Thahâwi 1/49.
  4. jalan riwayat Abdullâh bin Syihâb al-Khaulani yang dikeluarkan imam Muslim no.288 dengan redaksi:

كُنْتُ نَازِلًا عَلَى عَائِشَةَ فَاحْتَلَمْتُ فِي ثَوْبَيَّ فَغَمَسْتُهُمَا فِي الْمَاءِ، فَرَأَتْنِي جَارِيَةٌ لِعَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا فَبَعَثَتْ إِلَيَّ عَائِشَةُ فَقَالَتْ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ بِثَوْبَيْكَ؟ قَالَ قُلْتُ: رَأَيْتُ مَا يَرَى النَّائِمُ فِي مَنَامِهِ، قَالَتْ: هَلْ رَأَيْتَ فِيهِمَا شَيْئًا؟ قُلْتُ: لَا، قَالَتْ: «فَلَوْ رَأَيْتَ شَيْئًا غَسَلْتَهُ لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّي لَأَحُكُّهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَابِسًا بِظُفُرِي»

Aku pernah menginap dirumah ‘Aisyah lalu aku bermimpi keluar mani pada dua helai pakaianku, lalu aku cuci keduanya dengan air, lalu budak perempuan milik ‘Aisyah melihatku lalu mengkhabarkan kepada beliau kemudian ‘Aisyah mengutusnya memanggil aku. Lalu ‘Aisyah bertanya: Apa yang menyebabkan kamu berbuat atas kedua pakaianmu tersebut? aku menjawab: Aku melihat apa yang dilihat orang tidur dalam mimpinya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma berkata: Apakah kamu melihat pada keduanya sesuatu (mani)? aku menjawab: Tidak. ‘Aisyah pun berkata: Seandainya kamu lihat maninya maka cucilah, sungguh aku mengerik dari pakaian Rasûlullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam mani yang kering dengan kuku-kukuku.

  1. jalan riwayat Mujahid dari ‘Aisyah yang dikeluarkan Oleh athThahawi 1/51
  2. Jalan riwayat Sa’id bin Jubeir dari ‘Aisyah yang dikeluarkan oleh athThabrani dalam al-Ausaath no. 5690 .

wallahu a’lam

 

Penjelasan Kosa Kata

 

(كَانَ رَسُوْلُاللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ) termasuk fiil mudhari’ ada setelah lafazh (كان) yang menunjukkan terulang-ulang dan kontinyu perbuatannya selama tidak ada indikator yang menyelisihi makna ini.

(الْمَنِيَّ) Mani atau cairan sperma adalah cairan berwarna putih keruh, memiliki bau yang khas, keluar dengan syahwat, keluar dengan memancar dan membuat lemas, biasanya keluarnya cairan ini diiringi dengan rasa nikmat dan dibarengi dengan syahwat.Mani dapat keluar dalam keadaan sadar (seperti karena berhubungan suami-istri) ataupun dalam keadaan tidur (biasa dikenal dengan sebutan “mimpi basah”).

(ثُمَّ يَخْرُجُ إلَى الصَّلاَةِ فِيْ ذَلِكَ الثَّوْبِ، وَأنَا أَنْظُرُ إِلَى أثَرِ الْغَسْلِ) kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut walaupun masih ada bekas cuciannya.

(أَفْرُكُهُ) Lafazh ini ada pada riwayat lainnya dan pada asalnya bermakna menggosok sesuatu hingga mengelupas (lisân al-Arab 10/473) dan dapat diartinya mengerik dengan tangan hingga mengelupas dan lepas yang menempel.

(فَيُصَلِّي فِيهِ) menunjukan langsung sholat. Ini menegaskan bahwa tidak terjadi pencucian setelah dikerik dengan sholat, bahkan ada dalam riwayat ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1/147 berbunyi:

أنها كانت تَحُتُّ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي.

A’isyah dulu mengerik mani dari pakaian Rasûlullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau sholat.

 

Pengertian Hadits Secara Umum.

Ummul mukminin ‘Aisyah menceritakan kepada kita cara menghilangkan mani dari pakaian Rasûlullâh. Beliau kadang mencucinya dan kadang mengeriknya.Apabila maninya dalam keadaan basah maka ‘Aisyah mencucinya lalu Nabi keluar untuk shalat dan sisa air masih nampak pada pakaian tersebut.Apabila maninya sudah kering maka beliau mengeriknya hingga mengelupas dan hilang kemudian sholat menggunakan pakaian tersebut tanpa dicuci.  (tanbîhul Afhâm syarhu Umdah al-Ahkâm 1/88).

 

Faedah Pelajaran Ilmu Hadits

  1. Yang dimaksud dengan hadits “Yang disepakati al-Bukhâri dan Muslim” atau biasa disebut dengan “Muttafaq ‘alaihi (مُتَفَقٌ عَلَيْهِ)”, ialah hadits yang di-takhrij (dikeluarkan) oleh al-Bukhâri dan Muslim, yang keduanya sepakat dalam asal hadits (ashlul hadits) dari jalan sahabat yang sama, meskipun terdapat perbedaan di sebagian susunan lafazh-nya.

Hal ini sebagaimana diterangkan sendiri oleh Al Hafizh di kitab Fat-hul Bâri (1/279 di akhir kitab ilmu):

وَالْمُرَادُ بِمُوَافَقَةِ مُسْلِمٍ مُوَافَقَتُهُ عَلَى تَخْرِيْجِ أَصْلِ الْحَدِيْثِ عَنْ صَحَابِيْهِ وَإِنْ وَقَعَتْ بَعْضُ الْمُخَالَفَةِ فِيْ بَعْضِ السِيَقَاتِ.

yang dimaksud dengan disepakati imam Muslim adalah sepakat mengeluarkan pokok hadits dari satu sahabat walaupun terjadi sedikit perbedaan dalam sebagian alur redaksinya.

  1. Hadist ‘Aisyah di atas dikeluarkan oleh Al-Bukhâri dan Muslim dengan lafazh “mencuci (الْغَسْلُ),” dan dengan lafazh “mengerik (الْفَرْكُ)” dan lafazh lain yang semakna dengannya.

Imam Al-Bukhâri hanya meriwayatkan dengan lafazh “mencuci (الْغَسْلُ),” tidak meriwayatkan dengan lafazh “mengerik (الْفَرْكُ)”. Tetapi Imam Al-Bukhâri sendiri, ketika meriwayatkan hadits “mencuci” di atas dalam Shahih-nya telah mengisyaratkan adanya hadits “mengerik”, meskipun ia tidak meriwayatkannya, karena memang tidak memenuhi persyaratan beliau di Shahih-nya. Beliau memberikan bab dengan judul:

بَابُ غَسْلِ الْمَنِيِّ وَفَرْكِهِ

(Bab mencuci mani dan mengeriknya).

Dari keterangan di atas ada dua faidah yang dapat kita ambil:

Pertama.Tidak semua hadits shahih dimasukkan Al-Bukhâri di kitab Shahih. Demikian juga Muslim telah menegaskan di kitab Shahih, bahwa tidak semua hadits shahih, ia masukkan di dalam Shahih-nya.

Insya Allah pada tempat dan kesempatan yang lain yang lebih tepat, akan saya turunkan perkataan keduanya dan alasan-alasannya.

Kedua.Keunggulan atau kelebihan Al-Bukhâri atas Muslim tidak mutlak.Tetapi dalam sebagian hadits, adakalanya Muslim lebih unggul dari Al-Bukhâri.Wallahu a’lam.

 

Fikih Hadits.

  1. Air mani itu suci dan tidak najis menurut pendapat yang rojih. Kedudukannya sama seperti air ludah, ingus dan air reak. Meskipun dianggap kotor, tetapi kotor bukan sebagai najis. Secara syar’i, ia tetap suci. Adapun kadang-kadang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Aisyah mencuci air mani yang menempel di pakaian Beliau, tidak menunjukkan najisnya, tetapi sebagai kebersihan saja.

Seperti air ludah dan ingus yang mengenai pakaian kita, dikatakan kotor, kemudian dicuci untuk kebersihan. Demikian juga kuah sayur yang tumpah menimpa pakaian kita, dikatakan kotor, bukan kotor dalam arti najis secara syar’i. Dari sini, kita dapat mengambil satu kaidah, bahwa tidak setiap sesuatu yang dicuci atau dianggap kotor itu najis.

  1. Kewajiban seorang isteri berkhidmat kepada suami, sampai-sampai dalam masalah yang dianggap kotor oleh manusia.
  2. Zuhudnya Nabi dalam kehidupan dunia.
  3. Setiap perkataan dan perbuatan Nabi tidak disembunyikan dari umatnya. Meskipun sesuatu yang biasanya disembunyikan oleh manusia, seperti urusan air mani. Dari kaidah ini, kita mengetahui, alangkah batilnya perkataan Rafidhah (Syi’ah), bahwa Nabi telah merahasiakan sesuatu kepada Ali yang tidak diketahui oleh seorangpun juga dari umatnya.
  4. Isteri-isteri Nabi, terutama ‘Aisyah, lebih mengetahui tentang keadaan Nabi di rumah-rumah mereka dari sahabat yang lain.
  5. Para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in menjawab pertanyaan dengan dalil.
  6. Keutamaan ‘Aisyah yang berkhidmah kepada Nabi dan anjuran wanita membantu suaminya dalam mencuci pakaian dan membersihkan rumah.
  7. Yang disyariatkan dalam menghilangkan mani pada pakaian adalah apabila maninya dalam keadaan basah maka dicuci. Apabila maninya sudah kering maka dikeriknya hingga mengelupas dan hilang. (tanbîhul Afhâm syarhu Umdah al-Ahkâm 1/88).

 

Masaa’il

Para Ulama bersepakat bahwa membersihkan pakaian atau badan dari air mani adalah disyariatkan. Namun mereka berbeda pendapat mengenai kesucian air mani tersebut. Apakah air mani itu suci atau najis?

  1. Pendapat pertama

Mereka mengatakan bahwa air mani adalah suci dan tidak najis. Ini adalah mazhab Syâfi’iyah (Lihat Mughni al-Muhtâj 1/79-80 dan Kifâyatul Akhyâr 1/41) dan pendapat termasyhur dalam mazhab Imam Ahmad (lihat Syarhu Muntahal Iradât 1/102 dan al-Inshâf 1/230). Juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat diantaranya Aisyah, Ibnu Abbas, Sa’ad  bin Abi Waqqash dan Ibnu Umar, sebagaimana disampaikan dalam Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 3/198, Syarhus Sunnah 2/90 dan lainnya. Pendapat ini dirojihkan oleh Ibnu Taimiyah (lihat al-Fatawa 21/606 dan 588) dan Ibnu Qayyim dalam Bada’i’ al-fawaa’id (3/157-158) serta sah-Shan’ani dalam Subulussalam 1/77-80 dan selainnya.

Imam at-Tirmidzi menyatakan: Ini adalah pendapat banyak shahabat Nabi dan tabi’in dan ulama fikih setelah mereka seperti Sufyân at-Tsauri, asy-Syâfi`i, Ahmad, Ishâq. Mereka menyatakan tentang mani yang menempel di pakaian cukup sah dengan dikerik walaupun tanpa dicuci. (Sunan at-Tirmidzi 1/116).

Argumentasi mereka sebagai berikut:

  1. Firman Allâh Ta’ala:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ

“Dan Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (QS. Al Isra: 70)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah telah memuliakan manusia, sedangkan manusia berasal dari air mani. Maka, bagaimana mungkin makhluk yang telah dimuliakan oleh Allah berasal dari sesuatu yang najis.

2.Dari Ibnu Abbas. Beliau berkata:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ , قَالَ: «إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُزَاقِ , وَإِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ بِإِذْخِرَةٍ»

Rasûlullâh pernah ditanya tentang air mani yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab: “Hanya saja air mani itu adalah seperti ingus dan air ludah, dan cukup kamu mengusapnya dengan sepotong kain atau dengan daun idkhir”. (HR ad-Daraquthni 1/123, al-Baihaqi di sunan al-Kubra 1/418 dan dinilai Mungkar oleh al-Albâni dalam silsilah ahâdits ad-Dha’ifah no. 948).

Dalam hadits ini, Rasûlullâh menyerupakan air mani dengan ingus dan air ludah, sedangkan para ulama tak ada yang berselisih tentang kesucian kedua cairan tersebut (yakni ingus dan air ludah). Tata cara yang beliau ajarkan dalam membersihkan air mani juga mengisyaratkan bahwa air mani itu tidak najis. Karena pada dasarnya membersihkan najis adalah dengan air dan tidak cukup dengan mengusapnya dengan kain atau daun.

Namun haditsnya lemah dan tidak bisa dijadikan argumentasi.

  1. Dari Aisyah yang ada dalam pembahasan kita. Beliau berkata:

كُنْتُ أَفْرُكُالمَنِيَّمِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَثُمَّ يَذْهَبُفَيُصَلِّي بِهِ

“Aku pernah mengerik mani dari pakaian Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wa salam kemudian beliau pergi lalu sholat dengan pakaian tersebut”. Dalam riwayat Muslim,

لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكاً، فَيُصَلِّي فِيْهِ

“Aku telah mengeriknya (mani) dari pakaian Rasûlullâh shalallahu ‘alaihi wa salam , lalu beliau sholat dengannya (pakaian yang terkena mani tersebut).

Hadits ini serupa dengan hadits sebelumnya, melainkan cara membersihkan mani yang mengenai pakaian saja yang berbeda. Hadits ini juga menjadi dalil penguat bahwa air mani adalah suci, dengan alasan seandainya air mani adalah najis maka tidak cukup menyucikannya dengan mengeriknya.

Ibnu Hibbaan rahimahullahu Ta’ala berkata: A’isyah telah mencuci mani dari pakaian Rasûlullâh apabila maninya masih basah, karena itu dituntut baik oleh jiwa dan mengeriknya apabila sudah kering lalu sholat mengenakannya. Demikianlah pendapat dan tarjih kami. Mani yang basah dicuci untuk kelegaan hati bukan karena najis dan yang kering cukup dikerik untuk mengikuti sunah Nabi ( lihat al-Ihsân 4/221).

Sedangkan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1/145-147 berkata: Bab penjelasan dalil bahwa mani tidak najis dan keringanan (Rukhshah) dalam mengeriknya ketika dia kering dari baju, karena najis tidak akan hilang dari baju dengan dikerik tanpa dicuci. Juga Nabi sholat mengenakan baju yang terkena air mani setelah dikerik dalam keadaan kering berisi penjelasan mani tersebut tidak najis.

Penulis Kifâyatul Akhyâr, Taqiyuddin Abu Bakr Ad Dimaysqi mengatakan, “Seandainya mani itu najis, maka tidak cukup hanya dikerik (dengan kuku) sebagaimana darah (haidh) dan lainnya. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa mani tersebut dibersihkan dengan dicuci, maka ini hanya menunjukkan anjuran dan pilihan dalam mensucikan mani tersebut. Inilah cara mengkompromikan dua dalil di atas. Menurut ulama Syafi’iyah, hal ini berlaku untuk mani yang ada pada pria maupun wanita, tidak ada beda antara keduanya.”[ Kifâyatul Akhyâr, 1/70.]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Sudah maklum bahwa para sahabat pasti pernah mengalami mimpi basah di masa Nabi. Pasti pula mani tersebut mengenai badan dan pakaian salah seorang di antara mereka. Ini semua sudah diketahui secara pasti. Seandainya mani itu najis, maka tentu wajib bagi Nabi memerintahkan mereka untuk menghilangkan mani tersebut dari badan dan pakaian mereka sebagaimana halnya perintah beliau untuk beristinja’ (membersihkan diri selepas buang air), begitu pula sebagaimana beliau memerintahkan untuk mencuci darah haidh dari pakaian, bahkan terkena mani lebih sering terjadi daripada haidh. Sudah maklum pula bahwa tidak ada seorang pun yang menukil kalau Nabi memerintahkan salah seorang sahabat untuk mencuci mani yang mengenai badan atau pakaiannya. Dari sini, diketahui dengan yakin bahwa mencuci mani tersebut tidaklah wajib bagi para sahabat. Inilah penjelasan yang gamblang bagi yang ingin merenungkannya.”[Majmu’ Al Fatâwâ, 21/604-605]

  1. Pada asalnya satu benda itu suci. Sesuatu tidak beralih dari hukum asal ini sampai ada dalil yang mengalihkannya, sehingga tidak boleh menghukumi sesuatu itu najis tanpa dalil syariat yang menghukuminya najis. Apalagi penjelasan tentang kenajisan mani sangat mendesak sekali, karena menimpa semua orang. Seandainya mani itu najis tentulah syariat akan menjelaskannya dan akan dikenal masyhur dikalangan kaum muslimin, sebagaimana umat ini mengetahui hukum najisnya kencing.
  2. Perbuatan Rasûlullâh yang diceritakan Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْلُتُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِهِ بِعِرْقِ الْإِذْخِرِ ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ، وَيَحُتُّهُ مِنْ ثَوْبِهِ يَابِسًا ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ

Rasûlullâh dahulu mencungkil mani dari bajunya dengan akar idah-khir kemudian sholat menggunakannya dan mengerik dari bajunya bila kering kemudian sholat menggunakannya.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam al-Musnad 6/243, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no. 294 dan al-Baihaqi 2/418 dan dinilai hasan oleh syeikh al-Albani dan Syeikh al-A’zhami dalam tahqiq kitab Shahih Ibnu Khuzaimah serta Syeikh as-Sa’ati dalam al-fathu ar-Rabbani 1/250.

Kesimpulannya, air mani adalah suci dan tidak wajib menyucikannya. Inilah pendapat kelompok pertama.

  1. Pendapat kedua

Mereka berpendapat bahwa air mani adalah najis, wajib mencucinya jika basah dan mengeriknya jika kering. Ini adalah Mazhab Abu Hanifah(lihat Hâsyiyah Ibnu ‘Abidin 1/314), Madzhab Mâlikiyah (Hâsyiyah Al-Khirasyi ‘Ala Mukhtashar al-Khalîl 1/92) dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu pendapatnya.[ Lihat al-Inshâf 1/340 dan al-Mubdi’ 1/338-339). (lihat juga Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Saalim, 1/74, Kifâyatul Akhyâr fî Halli Ghoyatil Ikhtishor, 1/ 69, dan Majmu’ Al Fatâwâ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/604.]

Dalil ulama yang menyatakan bahwa mani itu najis adalah sebagai berikut:

1) Firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّآءٍ مَّهِينٍ

“Bukankah Aku telah menciptakan kalian dari air yang hina?” (QS. Al Mursalat: 20).

Ayat yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala telah memuliakan manusia tidaklah mengharuskan bahwa asal manusia juga mulia dan suci.

2) Hadits dari Aisyah yang juga dijadikan dalil oleh pendapat pertama, diantaranya,

كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِي مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَمْسَحُهُ أَوْ أَغْسِلُهُ  إِذَا كَانَ رَطْبًا

“Dahulu aku mengerik mani dari pakaian Rasûlullâh SAW jika kering dan aku menghapus atau mencucinya jika basah”. (HR Abbu ‘Awânah dalam al-Mustakhraj, ath-Thahâwi dan ad-Daraquthni dan dinyatakan al-Albani : sanadnya sesuai syarat syaikhain (lihat Irwâ’ al-Ghalîl 1/169).

Hadits ini menunjukkan bahwa mani adalah najis. Dengan alasan:

pertama, jika air mani adalah suci maka tentu Aisyah akan membiarkannya pada pakaian Rasûlullâh. Padahal kenyataannya, ia tidak pernah meninggalkan perbuatan itu dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Kedua, jika air mani itu suci, untuk apa Aisyah menyibukkan diri untuk menyucikan sesuatu yang memang telah suci sebelumnya. Ini adalah tindakan sia-sia.

3) Hadits dari ‘Aisyah, beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ الْمَنِيَّ، ثُمَّ يَخْرُجُ إلَى الصَّلاَةِ فِيْ ذَلِكَ الثَّوْبِ، وَأنَا أَنْظُرُ إِلَى أثَرِ الْغَسْلِ

“Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi was sallam biasa mencuci bekas mani (pada pakaiannya) kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat dengan pakaian tersebut. Aku pun melihat pada pakaian beliau bekas dari mani yang dicuci tadi.”[ HR. Muslim no. 289]

Sisi argumentasinya adalah bahwa mencuci tidak dilakukan kecuali dari yang najis dan dalam kaedah ushul bahwa kata kerja mudhari’ setelah lafazh (كان) menunjukkan terus menerus dan mayoritas berbuat demikian.Ini bisa terfahami sebagai kewajiban mencucinya.

4). Mani keluar dari salah satu dua jalan (dubur dan qubul) dan setiap yang keluar darinya adalah najis. Menurut madzhab Hanafiyah seharusnya yang sesuai qiyas adalah mencuci yang keringnya karena najis, namun ditinggalkan karena adanya hadits mengerik mani tanpa dicuci.

5). Keluarnya mani adalah hadas yang mengharuskan bersuci dengan mandi dan semua hadats yang mengharuskan mandi adalah najis dan mani termasuk hal ini sehingga mani hukumnya najis.

6). Qiyas (analogi) kepada sisa kotoran yang keluar seperti kencing dan buang air besar. Jelas keduanya adalah najis dan mani pun sama dengan kedua hal ini.

7). Dinukilkan dari sebagian sahabat adanya perintah mencuci mani seperti dari Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairoh, Umar, Ibnu Mas’ud dan lainnya. (lihat al-‘Uddah Hâsyiyah Ihkâm al-Ahkâm karya sah-Shan’ani 1/352-353). Perintah  mereka untuk mencuci pakaian yang terkena mani menunjukkan kenajisannya.

8). Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyaan, ketika beliau bertanya kepada Ummu Habibah istri Nabi:

هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي الثَّوْبِ الَّذِي يُجَامِعُهَا فِيهِ؟ فَقَالَتْ: «نَعَمْ إِذَا لَمْ يَرَ فِيهِ أَذًى»

Apakah Rasûlullâh shalallahu ‘alaihi wa salam sholat dengan memakai pakaian yang dipakai dalam berhubungan suami istri dengannya? Beliau menjawab: Iya, apabila tidak melihat adanya ada (kotoran). (HR Abu Dawud no. 366 dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahih Sunan Abi Dawud).

Dalam hadits ini Ummu Habibah radhiyallahu anha menamai mani dengan adza (kotoran) dan Nabi shalallahu ‘alaihi was salam dahulu tidak sholat menggunakan pakaian yang terkena Mani dan tidaklah melakukan hal itu kecuali karena najisnya.

argumentasi ini disanggah sebagaimana disampaikan dalam kitab Bada’i al-Fawâ’id 3/156 : penamaan adza (أَذًى) tidak harus menunjukkan sesuatu itu najis, bahkan semua kotoran dinamakan adza (أَذًى) walaupun belum tentu pasti kenajisannya. Juga dengan adanya kemungkinan maksud dari adza tersebut adalah darah ath-thams yang sering mengenai pakaian seorang dari sebab tidurnya disamping istrinya. ada juga disana kemungkinan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menjauhkannya sebelum dicuci atau dikerik atau digosok merupakan bagian dari berhias yang diperintahkan ketika sholat, sebagaimana firman Allah ta’ala:

ﱡيٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Qs al-A’raf/7 : 31).

9). Hadits ‘Ammâr bin Yâsir dari Nabi, beliau bersabda: Pakaian hanya dicuci dari sebab tinja, kencing, madi, mani, darah dan muntah.

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dalam sunannya 1/127 dan beliau berkata: Tidak meriwayatkan hadits ini kecuali Tsâbit bin Hammâd dan dia seorang yang lemah sekali.

Hadits ini juga dibawakan Ibnu Adi dalam al-Kâmil di Dhu’afa ar-Rijâl 2/524-525 pada biografi Tsâbit bin Hammâd dan beliau berkata: Tidak aku ketahui meriwayatkan hadits ini dari Ali bin Zaid kecuali Tsâbit bin Hammâd ini.

Al-Haitsami dalam kitab Majma’ as-Zawâ’id 1/283 berkata: Ath-Thabrani membawakan hadits ini dalam al-Ausath dan al-Kabîr dan juga Abu Ya’la. Semuanya jalan periwayatannya berpusat pada Tsâbit bin Hammâd dan dia lemah sekali.

Hadits ini dihukumi lemah sekali oleh para ulama yang meriwayatkannya seperti ad-Daraquthni, al-Bazâr dan Ibnu Adi serta al-Baihaqi. Diantara ulama lainnya yang menghukumi hadits ini sebagai hadits yang lemah adalah:

  1. al-Uqaili dalam ad-Dhu’afa 1/176 dan berkata: Hadits tidak mahfuuzh dan tidak dikenal penukilannya.
  2. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 21/594 dan berkata: Tidak ada asalnya.
  3. Ibnu Abdil Hadi dalam St-Tanqiih 1/314, berkata: Syeikhul Islam berkata: Hadits ini palsu menurut pakar hadits.
  4. Ibnu al-Mulaqqin dalam al-badr al-Muniir 2/239 dan berkata: Ini hadits yang batil.
  5. Abul Khithaab al-Kalwadzaani dalam kitab al-Intishaar 1/102 berkata: Hadits ini disampaikan oleh Hibatullah ath-Thabari bahwasanya diriwayatkan oleh Tsaabit bin Hammaad dan pakar riwayat hadits sepakat meninggalkan haditsnya.

Dengan demikian jelaslah hadits ini paling tidak derajatnya lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dasar.

Pendapat yang rojih.

Yang rojih insya Allah adalah pendapat yang menyatakan sucinya mani karena kekuatan argumentasinya. Sebab seandainya najis maka secara qiyas wajib dicuci, sebagaimana najis-najis lainnya dicuci, seperti darah dan lainnya, tidak cukup hanya dikerik saja; Karena najis tidak hilang dari pakaian dengan dikerik saja tanpa dicuci.  Tidak ada kontradiksi antara hadits dicuci dengan dikerik karena masih mungkin dikompromikan, dengan cara membawa yang dicuci menjadi sunnah dan kebersihan, bukan untuk kewajiban sebagai bentuk kompromis atas semua dalil yang ada. (lihat al-I’lâm bi Fawâid Umdah al-Ahkâm 1/78), karena bolehnya mencuci yang suci-suci yang mengenai badan atau pakaian seperti debu, lumpur dan lain-lainnya. Kemudian tidak ada yang shahih tentang perintah mencucinya.Sekedar perbuatan tidak menunjukkan lebih dari kebolehan.

Kesucian mani ini dikuatkan juga dengan hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْلُتُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِهِ بِعِرْقِ الْإِذْخِرِ، ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ وَيَحُتُّهُ مِنْ ثَوْبِهِ يَابِسًا، ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ

Rasûlullâh mengusap mani dari pakaiannya dengan akar idkhir kemudian sholat menggunakan pakaian tersebut dan mengeriknya dari pakaian bila sudah kering kemudian sholat menggunakannya (HR ibnu Khuzaimah 1/149 dengan sanad hasan).

Ini jelas menunjukkan kesucian mani tanpa ada kemungkinan lainnya. (Bada`i’ al-fawâ`id 3/123).

Sedangkan pernyataan mereka bahwa mani keluar dari qubul dan setiap yang keluar darinya adalah najis, ini tidak diterima.

Wallahu a’lam.

Related posts

Mensucikan Kencing Bayi

Klik UK

Bersihkanlah diri Anda dengan Jihad Di Jalan Allah

Klik UK

Hukum Bejana Ahli Kitab

Klik UK