Image default
Fikih

Hukuman bagi Pelaku Zina

Hukuman bagi Pelaku Zina

Hukuman bagi pezina yang muhson adalah dirajam (dilempari) dengan batu sampai meninggal dunia, baik itu laki-laki ataupun wanita, baik itu seorang Muslim ataupun kafir.

Hukuman pezina yang bukan muhson: Dicambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, baik itu laki-laki maupun wanita. Sedangkan bagi hamba sahaya cambukannya sebanyak lima puluh kali dan tidak diasingkan, baik itu laki-laki maupun wanita.

Apabila seorang wanita yang tidak bersuami dan bukan pula milik seseorang hamil, maka had harus ditegakkan terhadapnya ketika dia tidak mengaku adanya syubhat ataupun karena paksaan.

Barang siapa yang memaksa seorang wanita untuk berzina, maka hukum had hanya akan jatuh kepadanya, tidak dengan wanita tersebut; karena wanita itu memiliki udzur dan dia berhak untuk menerima mahar.

Wajibnya had dalam perbuatan zina memiliki tiga syarat:

1- Tenggelamnya seluruh kepala kemaluan yang asli kedalam kemaluan wanita hidup.

2- Tidak adanya syubhat, tidak ada had bagi orang yang menyetubuhi seorang wanita yang dia kira sebagai isterinya.

Ketetapan zina:

1- Dengan pengakuan: Pengakuan seseorang yang dikenal kalau dia berakal sehat, cukup dengan satu kali pengakuan, dan empat kali pengakuan bagi orang yang dituduh memiliki kelainan akal, pada keduanya harus ada keterus terangan tentang persetubuhan dan dia harus tetap pada pengakuannya sampai had dilaksanakan.

2- Atau dengan persaksian: Yaitu dengan persaksian empat orang laki-laki muslim yang adil kalau dia telah melakukan perzinahan.

– Hukum had zina diberlakukan bagi orang yang melakukan perzinahan, baik dia seorang Muslim ataupun kafir; karena ini merupakan had atas perzinahan, sehingga diwajibkan atas orang kafir sebagaimana wajibnya qishas ketika membunuh dan potong tangan ketika mencuri.

– Apabila seorang pria muhson berzina dengan wanita yang bukan muhson, maka bagi setiap mereka hadnya masing-masing dari rajam dan cambuk serta pengasingan.

– Apabila seorang pria merdeka berzina dengan budak perempuan ataupun sebaliknya, yaitu wanita merdeka dengan budak, bagi setiap dari mereka hukum had yang sesuai dengan masing-masingnya.

– Hukum had akan ditegakkan terhadap pezina apabila dia seorang yang mukallaf, memiliki pilihan, mengetahui keharamannya, setelah adanya kepastian disisi hakim dengan pengakuan ataupun saksi, dan tidak adanya syubhat.

– Tidak digalikan tanah bagi orang yang akan dirajam, baik itu laki-laki maupun wanita, akan tetapi pakaian wanita dikencangkan agar tidak terbuka auratnya.

– Siapa saja dari wanita yang hamil karena perzinahan, atau atas dasar pengakuan wanita tersebut, maka imamlah yang pertama kali akan merajamnya, barulah setelah itu orang lain. Apabila perbuatan zina ditetapkan oleh empat orang saksi, maka mereka berempatlah yang pertama kali akan memulai rajam, lalu imam baru kemudian orang lain.

– Orang yang tidak mengetahui apa yang akan didapatnya dari perbuatan yang diharamkan, tidak bisa dijadikan udzur, adapun ketidak tahuan akan perbuatan, apakah dia haram ataukah tidak, maka inilah yang bisa diterima udzurnya. Barang siapa yang mengetahui bahwa zina itu haram, akan tetapi dia tidak mengetahui kalau hukuman hadnya adalah rajam ataupun cambuk, maka yang seperti ini tidak diterima udzur tentang ketidak tahuannya, bahkan tetap ditegakkan terhadapnya hukum had.

– Apabila seorang laki-laki beristeri melakukan perzinahan, maka dia tidak diharamkan dari isterinya, begitu pula jika seorang isteri berzina, dia tidak akan diharamkan dari suaminya, akan tetapi keduanya telah melakukan perbuatan yang berdosa besar, sehingga keduanya wajib untuk bertaubat dan beristighfar.

1- Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Al-Israa: 32)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: ” أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ” قَالَ: قُلْتُ لَهُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيْمٌ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ” ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ” قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ” ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ. ( متفق عليه )

2- Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: dosa apakah yang terbesar disisi Allah? Beliau menjawab: “yaitu kamu menjadikan sekutu bagi Allah” berkata Ibnu Mas’ud: saya katakan: ini sungguh sangat besar, kemudian apa lagi? Beliau menjawab: “Kemudian kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu” saya bertanya lagi: kemudian apa? Beliau menjawab: “Kemudian kamu berzina dengan isteri tetanggamu” (Muttafaq Alaihi)[1].

Muttafaq Alaihi, riwayat Bukhori no (6811) dan Muslim no (86), lafadz ini darinya. [1]

Related posts

Hukuman Had Pelaku Zina

Klik UK

Ringkasan Fikih Islam : Macam-Macam Jihad

Klik UK

Ringkasan Fikih Islam : Macam Macam Nadzar

Klik UK

Leave a Comment