Image default
Artikel Mutiara Hadits

Anjuran Bertaubat Kepada Allâh

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسٍ بنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ»

Dari Abi Hamzah Anas bin Mâlik al-Anshâri khâdim Rasûlullâh, beliau berkata: Rasûlullâh bersabda: Allâh lebih senang dengan taubat hambaNya dari (senangnya) salah seorang kalian yang jatuh dari ontanya dan ontanya tersebut hilang di padang pasir, (HR al-Bukhâri).

Takhrîj Hadits

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh imam al-Bukhâri dalam Shahihnya, kitab ad-Da’awât, bab at-Taubat no. 5950 dari jalan periwayatan Qatâdah dari Anas bin Mâlik. Hadits ini dijelaskan lebih lengkap oleh imam Muslim dalam Shahihnya dengan redaksi:

 لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Allâh lebih senang dengan taubat hambaNya ketika bertaubat kepadanya dari salah seorang kalian yang mengendarai kendaraan (onta) di padang pasir, lalu onta tersebut lepas darinya membawa semua makanan dan minumannya, lalu ia pesimis dari mendapatkan onta tersebut. Lalu ia mendatangi pohon lalu berbaring di bawahnya dalam keadaan putus asa dari menemukan ontanya tersebut. Ketika keadaannya demikian sekonyong-konyong ia mendapatkan onta tersebut berdiri di sisinya, lalu ia ambil tali kendalinya kemudian berkata karena sangat senangnya: Ya Allâh Engkau adalah hambaku dan Aku adalah RobbMu. Dia telah salah karena terlalu senangnya. (HR Muslim no. 4932).

Biografi sahabat perawi hadits.

Beliau adalah Anas bin Mâlik bin an-Nadhar Abu Hamzah al-Anshâri, al-Khazraji pelayan Rasûlullâh. Ketika Nabi datang ke kota madinah, Ummu Sulaim bintu Malhan ibu Anas datang membawa Anas yang masih berusia 10 tahun, lalu ibunya berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ خَادِمُكَ أَنَسٌ ادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Wahai Rasûlullâh! Inilah pembantumu Anas, mohonkanlah doa untuknya. Lalu Rasûlullâh berdoa: Ya Allâh perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah semua yang Engkau karuniakan kepadanya. (Muttafaqun ‘alaihi).

Sedang al-Mizzi dalam Tahdzîb al-Kamâl 3/364 menyampaikan riwayat dari Anas bin Mâlik yang berbunyi: “Ummu Sulaim membawaku kepada Nabi pada waktu aku kecil lalu berkata: Wahai Rasûlullâh, doakanlah dia! Maka Nabi berdoa: Ya Allâh perbanyaklah harta dan anak-anaknya dan masukkanlah ia ke dalam syurga. Anas berkata: Aku telah mendapatkan keduanya dan aku berharap mendapat yang ketiga”.

Anas berkata : Demi Allâh sungguh hartaku banyak dan anakku dan cucuku sudah melampaui seratus sekarang ini. (HR Muslim).

Anas terus melayani Nabi hingga Nabi meninggal dunia dan setelah itu beliau menetap di Madinah lalu pindah ke Bashrah dan menetap serta meninggal disana pada tahun 90 H[1]

Syarah.[2]

Alangkah agungnya rahmat Allâh kepada hamba-hambaNya! Alangkah indahnya nikmat Allâh dan pahalaNya kepada orang yang bertaubat! Hadits yang mulia ini menampakkan keagungan rahmat Allâh dan indahnya nikmat Rabb kita tersebut. Dimana Rasûlullâh mengedepankan hal ini dalam bentuk penjelasan yang menakjubkan, peristiwa yang memotivasi dan memberi pengaruh dengan cara yang sederhana dan mudah.  Gambaran yang membuat setiap orang merasakannya dan memasukkan motivasi yang kuat kepada orang yang berakal untuk merenunginya dengan hati dan pikirannya, sehingga mendapatkan rahmat Allâh mencakup segala sesuatu dan Allâh maha pengampun dan penerima taubat.

Lihatlah bagaimana Rasûlullâh mendekatkan pemahaman kita semua untuk menumbuhkan harapan taubat dan memotivasi jiwa untuk selamat dari kemaksiatan? Beliau sampaikan beberapa tempat dan keadaan agar kita dapat merasakan langsung rahmat Allâh yang maha luas tersebut. Padang pasir yang tidak ada air padanya dan pengendara onta, kemudian kehilangan bawaan, makanan dan minuman dan mencari dengan sungguh-sungguh barang-barang tersebut yang merupakan tonggak kehidupan musafir tersebut, kemudian putus asa dan pesimis mendapatkannya lagi. Setelah itu bersandar kebawah pohon untuk istirahat atau putus asa dari mendapatkan yang telah hilang atau menunggu kematian. Kemudian mendadak datang keselamatan dan kebaikan dengan mendapatkan ontanya datang lengkap dengan semua bawaannya. Sehingga muncullah puncak kegembiraan lalu ingin mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allâh namun tanpa sadar salah dalam mengucapkannya karena terlalu senang. Maka Allâh pun memaafkan kekhilafan dan lupa tersebut.

Cerita beliau ini menanamkan pengertian ke dalam hati kita bahwa Allâh senang dengan hambaNya yang bertaubat melebihi kesenangan yang didapatkan seorang yang kehilangan semua tiang kehidupannya kemudian Allâh karuniakan dan Allâh kembalikan untuknya serta Allâh wujudkan harapannya. Penyerupaan ini memberikan penjelasan yang menghilangkan rasa putus asa dan pesimis dari hati pelaku maksiat dan menunjukinya untuk segera bertaubat dan kembali kepada Allâh walaupun besar dosanya. Sebagai jawaban panggilan Allâh dalam firmanNya:

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allâh. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS az-Zumar/39: 53).

Faedah Hadits

  1. Kedudukan Taubat di Sisi Allâh.

Taubat memiliki kedudukan sangat tinggi disisi Allâh. Hadits ini menjelaskan kedudukannya dan ketinggian martabatnya serta penerimaan Allâh Ta’ala. Lihatlah sabda Rasûlullâh:

«اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ»

Allâh lebih senang dengan taubat hambaNya dari salah seorang kalian yang jatuh dari ontanya dan ontanya tersebut hilang di padang pasir, (HR al-Bukhari)

Hal ini menjelaskan cepatnya penerimaan Allâh terhadap taubat hambaNya yang bertaubat dan Allâh menerimanya dengan ampunan dan rahmatNya serta memperlakukannya dengan perlakuan dzat yang senang dengannya.[3]

Dalam hadits ini Rasûlullâh menyerupakan penerimaan dan keridhaan Allâh terhadap taubat hambaNya yang bertaubat dan rahmatNya yang maha luas bagi hambaNya serta kasih sayangnya terhadap mereka dengan seorang yang berada di tanah yang gersang membinasakan kehilangan onta yang menjadi tumpuannya untuk melintasi padang pasir tersebut. Kemudian mendapatkan dirinya hampir binasa dan putus asa dari kehidupan, sebagai motivator kepada manusia untuk bertaubat dan menahan dari yang memalingkannya serta membuka pintu harapan dihadapan hambaNya. Allâh dengan kekuasaannya yang agung dan kemuliannya yang besar lagi maha lemah lembut memotivasi hambaNya untuk bertaubat dan memuliakan mereka dengan menerima taubatnya serta mengarahkan mereka kepada semua yang berisi keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akherat.

Dalam hadits ini ada ungkapan kebaikan Allâh kepada hambaNya yang bertaubat dan memaafkan keburukan mereka; karena pelaku maksiat apabila terjerumus dalam kemaksiatan berada dalam genggaman dan tahanan syaitan, sehingga hampir binasa. Apabila Allâh berikan taufiq untuk bertaubat maka dia keluar dari keburukan maksiat dan bebas dari genggaman dan tahanan syaitan, sehingga Allâh menyambutnya dengan ampunan dan rahmatNya.

Permisalan ini hanyalah untuk keadaan hamba yang bertaubat dan yang didapatkannya dengan sebab taubat berupa keselamatan dan kemenangan. Keindahan gambaran ini diungkapkan dengan seorang yang melintasi padang pasir membawa makanan, air dan kendaraannya berupa onta. Lalu semuanya hilang secara mendadak dan ia sudah tidak mampu mencarinya lagi hingga putus asa dari usaha mengambalikan itu semua. Orang tersebut dipenuhi semua bentuk keputus asaan. Tampak di jiwanya pesimis dari selamat. Ketika kelelahan, rasa sakit dan keputus asaan serta kepasrahan untuk mati dan binasa, sekonyong-konyong onta bersama air dan makanan tiba-tiba ada sehingga ia bangun serta merta memegangnya agar tidak kabur lagi, berteriak karena terlalu senangnya menyatakan: Ya Allâh Engkau hambaku dan Aku robbMu. Melakukan kesalahan karena terlalu senangnya.

Orang ini mendapatkan kesenangan yang tak terkirakan dan kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Tidaklah semangat untuk hidup dan menerima kehadiran onta serta keselamatan itu lebih dari penerimaan Allâh pada taubat hambaNya yang mukmin dan sambutanNya. Karena kembalinya onta tersebut berisi kehidupan duniawi saja dan kembalinya hamba tersebut dengan taubat berisi kehidupan akhrawi dan inilah yang dituntut Allâh darinya dan diajaknya untuk menjaga dan berpegang teguh dengannya (Syarah Riyadh ash-Sholihin, DR. Al-Husaini Haasyim hlm 35).

Dalam hadits yang mulia ini ada anjuran bertaubat dan kembali kepada Allâh. Allâh telah menggantung kesuksesan mutlak pada melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan dalam firmanNya

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS an-Nuur/24 :31).

Sehingga semua yang bertaubat sukses dan tidak akan sukses kecuali dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, oleh karena itu taubat memiliki kedudukan tinggi di sisi Allâh dan menjadi tujuan dan target setiap muslim.

  1. Penggunaan uslub Tasybih dan permisalan

Ada penggunaan uslub tasybih dan permisalan dalam hadits ini dalam sabda beliau:

«اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ»

(Allâh lebih senang dengan taubat hambaNya dari salah seorang kalian yang jatuh dari ontanya dan ontanya tersebut hilang di padang pasir). (Muttafaqun ‘alaihi)

Penting dan faidahnya permisalan tampak dalam menggambarkan yang terfahami dalam akal kedalam bentuk gambaran yang terinderakan yang orang-orang hadapi dan akal terima. Karena pengertian yang ada di akal tidak akan langgeng di benak kita kecuali dibentuk dalam gambaran hidup yang dekat dengan pemahaman. Permisalan membuka realita dan memaparkan yang gahib dalam bentuk yang nyata dan dekat. Pribahasa dan permisalan memberikan pengertian yang indah dalam ibarat yang ringkas.

  1. Uslub Motivasi

Ada dalam hadits uslub motivasi (targhib) untuk bersegera bertaubat kepada Allâh dan janji diterimanya disisi Allâh. Sudah dimaklumi manusia di kehidupan dunia ini diliputi banyak faktor-faktor yang memalingkannya dari kebenaran dan kebaikan yang mempengaruhi pelaksanaan yang menjadi beban syariat padanya. Disamping itu juga jiwanya diciptakan mencintai kebaikan dan berusaha mendapatkannya dan membenci keburukan dan senang menjauhinya. Oleh karena itu uslub targhib dengan janji pahala besar disisi Allâh bagi hambaNya yang taat dan bertakwa akan membuatnya senang dan menyeretnya kepada kebaikan dan kebahagian beramal kebaikan.

Oleh karena itu banyak dalam al-Qur`an penggunaan uslub targhib ini, diantaranya:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. [QS al Baqarah/2 :25].

  1. Memberikan harapan pada hati mad’u

Menumbuhkan harapan pada jiwa mad’u dan menanamkan pengharapan dijiwa mereka kepada yang lebih baik merupakan salah satu sifat penting seorang da’i. Pada hadits ini tampak sekali sifat ini berupa memberikan harapan pada jiwa para obyek dakwah dan memberikan ketenangan kepada mereka bahwa pintu taubat selalu terbuka. Apalagi bila mengetahui dan meyakini keluasan rahmat Allâh dan penerimaan taubat dan ampunan dari semua dosa seperti dijelaskan dalam firman Allah :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim/66:8).

Semua ini akan membuka pintu harapan mendapatkan rahmat Allâh, sehingga akan menambah tinggi semangat dan kemauan meninggalkan kemaksiatan dan dosa.

  1. Penetapan sifat senang untuk Allâh.

Syeikhul Islam berkata, Dalam hadits ini ada penetapan sifat senang untuk Allâh. Pembicaraan tentangnya sama dengan pembicaraan seputar sifat-sifat lainnya. Dia adalah sifat hakiki bagi Allâh sesuai dengan keagunganNya. Sifat senang ini adalah sifat perbuatan (sifat Fi’li) yang berada pada kehendak dan kekuasaanNya.

WAllâhu a’lam.

 

[1].(lihat biografi beliau di al-Isti’aab 1/205, Tadzkiratlu Hufaazh 1/44 dan al-Ishaabah 1/112).

[2]Syarah dan Faedah hadits diringkas dari Kunûz Riyâdh ash-Shâlihîn 1/239-246.

[3](al-Mufhim Lima Asykala Min TalkhishKitab Muslim karyaAbul Abbas al-Qurthubi 7/71-72)

Related posts

Mensucikan Jiwa Dengan Haji

Klik UK

Bersihkanlah diri Anda dengan Jihad Di Jalan Allah

Klik UK

Bila Terjadi Perselisihan Dalam Jual Beli

Klik UK