Image default
Artikel Mutiara Hadits

Bila Terjadi Perselisihan Dalam Jual Beli

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إذَا اخْتَلَفَ الْمُتَبَايِعَانِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا بَيِّنَةٌ، فَالْقَوْلُ مَا يَقُولُ رَبُّ السِّلْعَةِ أَوْ يَتَتَارَكَانِ»

Dan dari Ibnu Mas’ud berkata: Aku mendengar Rasûlullâh bersabda: “Apabila dua orang yang berjual beli berselisih, sedang di antara mereka tidak ada keterangan yang jelas, maka perkataan yang benar ialah apa yang dikatakan oleh pemilik barang atau keduanya membatalkan transaksi.”

 

Takhrij al-Hadits.

Hadits ini memiliki enam jalan periwayatan:

  1. Dari jalur al-Qâsim bin Abdurrahmân bin Abdullâh bin Mas’ud dari Abdullâh bin Mas’ud secara marfû’ dikeluarkan oleh Ahmad dalam al-Musnad 1/466, Abu Dawud ath-Thayâlisi dalam Musnadnya no. 399, ad-Darâquthni dalam sunannya hlm 297, al-Baihâqi 5/333, at-Tirmidzi 1/240 dan beliau berkomentar: Ini mursal. Syeikh al-Albâni menjelaskan maksudnya adalah terputus antara al-Qâsim dengan kakeknya yaitu Ibnu Mas’ud, namun ada jalur lain yang bersambung dari jalur Muhammad bin Abdurrahmân bin Abi Laila dari al-Qâsim bin Abdurrahmân dari bapaknya dari Ibnu Mas’ud dengan ada tambahan redaksi :

والمبيع قائم بعينه .

jalan ini dikeluarkan Abu Dawud no. 3512, ad-Dârimi 2/250, Ibnu Mâjah no. 2186, ad-Darâquthni dan al-Baihâqi juga. imam al-Baihâqi melemahkan hadits ini dengan menyatakan, Ibnu Abi Laila menyelisihi jamaah dalam riwayat hadits ini dalam sanadnya, ketika menyatakan, dari bapaknya dan pada matannya juga menambah: Jual beli tetap ada dengan dzatnya.

Syeikh al-Albâni menyatakan, imam ad-Darâquthni mengeluarkan dari jalan Ibnu ‘Amârah dan Ibnu Abbâs, namun keduanya hadits yang lemah sehingga tidak berguna dalam penguatannya. Akan tetapi ada yang lebih baik dari keduanya yang menguatkan bersambungnya hadits ini, yaitu Umar bin Qais al-Mâshiri perawi tsiqat yang digunakan Muslim dalam shahihnya. al-Hâfizh menyatakan dalam Taqrîb : Shadûq kadang salah.

Riwayat beliau dikeluarkan oleh Ibnul Jârud dalam al-Muntaqâ no. 624 dan ad-Darâquthni dari jalan Muhammad bin Sa’ad dari ‘Amru bin Abi Qais dari Umar bin Qais al-Mâshiri dari al-Qâsim bin Abdurrahmân dari bapaknya. Sanadnya yang rojih adalah hasan bersambung. (al-Irwa’ no1322).

al-Hâfizh Ibnu Hajar berkata: Para perawinya tsiqât kecuali Abdurrahmân masih diperselisihkan mendengar dari bapaknya. (at-Talkhîsh 3/31).

Syeikh al-Albâni membantahnya dengan menyatakan Imam al-Bukhâri telah menetapkan Abdurrahmân mendengar hadits dari bapaknya. Yang menetapkan didahulukan dari yang meniadakan dan yang mengetahui adalah hujjah atas yang belum mengetahui, apalagi itu dari seperti imam al-Bukhâri.

Riwayat ini dikuatkan oleh riwayat Ma’n bin Abdurrahmân dan beliau seorang tsiqah termasuk perawi sahih al-Bukhari dan Muslim. Sebagaimana ada dalam al-Mu’jam al-Kabiir (3/57/1). Juga dikuatkan oleh Abu Sa’ad al-Baqaal dari asy-Sya’bi dari Abdurrahmân dari bapaknya yang juga dikeluarkan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr (3/57/2). Abu Sa’ad al-Baqâl seorang perawi yang lemah dan berbuat tadlîs.

  1. Dari ‘Aun bin Abdillâh dari Ibnu Mas’ud secara marfû’ dengan lafaz:

إِذَا اخْتَلَفَ الْبَيْعَانِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْبَائِعِ , وَالْمُبْتَاعُ بِالْخِيَارِ

Apabila dua orang yang jual beli berselisih, maka perkataan yang dimenangkan adalah perkataan penjual dan pembeli diberi hak pilih.

Jalan periwayatan ini dikeluarkan imam asy-Syâfi’i (no. 1264), Ahmad (1/466), at-Tirmidzi (1/240 no. 1270), dan al-Baihâqi dalam as-Sunan al-Kubra (5/332 no. 10806). Imam al-Baihâqi setelah menyampaikan hadits ini berkata: ‘Aun bin Abdillâh tidak mendapati Abduillâh bin Mas’ud dan ini menjadi penguat hadits terdahulu. asy-Syafi”i meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Uyainah dari Ibnu ‘Ajlân dalam riwayat as-Za’farani dan al-Muzani dari beliau. Kemudian as-Za’farani berkata: Abu Abdillâh (asy-Syâfi’i) berkata: Ini hadits terputus (mungqati’). Aku tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkan secara bersambung sanadnya dari Ibnu Mas’ud dan telah diriwayatkan dari banyak jalan. (as-Sunan al-Kubro 5/332).

  1. Dari Abu Ubaidah bin Abdillâh bin Mas’ud dari bapaknya semakna dengan hadits diatas, dikeluarkan Ahmad (1/466) an-Nasaa`i (2/230), ad-Darâquthni (296-297), al-Hâkim (2/48) dan al-Baihâqi (5/332-333). imam al-Baihâqi berkata: Ini mursal juga, Abu Ubaidah tidak menjumpai bapaknya.
  2. Dari Abdurrahmân bin Qais bin Muhammad bin al-Asy’ats dari bapaknya dari kakeknya, Beliau berkata:

اشْتَرَى الْأَشْعَثُ رَقِيقًا مِنْ رَقِيقِ الْخُمْسِ، مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بِعِشْرِينَ أَلْفًا فَأَرْسَلَ عَبْدُ اللَّهِ إِلَيْهِ فِي ثَمَنِهِمْ، فَقَالَ: إِنَّمَا أَخَذْتُهُمْ بِعَشَرَةِ آلَافٍ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَاخْتَرْ رَجُلًا يَكُونُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ، قَالَ الْأَشْعَثُ: أَنْتَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِكَ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِذَا اخْتَلَفَ الْبَيِّعَانِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا بَيِّنَةٌ فَهُوَ مَا يَقُولُ رَبُّ السِّلْعَةِ، أَوْ يَتَتَارَكَانِ»

al-Asy’ats membeli seorang budak dari budak al-Khumus dari Abdullâh dengan harga 20.000, lalu Abdullâh menagih kepadanya. al-Asy’ats berkata: Aku membelinya dengan harga 10.000. Maka Ibnu Mas’ud pun menjawab: Pilih seorang menjadi penentu antara aku dan kamu! mal al-Asy’ats berkata: Kamu antara aku dan dirimu saja. Abdullâh berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila dua orang yang berjual beli berselisih, sedang di antara mereka tidak ada keterangan yang jelas, maka perkataan yang benar ialah apa yang dikatakan oleh pemilik barang atau keduanya membatalkan transaksi.

Jalan periwayatan ini dikeluarkan Abu Dawud (no. 3511), an-Nasâ`i (2/229-230) secara marfu’ saja, Ibnul Jârud no. 625, ad-Darâqudthni (no. 297), al-Hâkim (2/45) dan al-Baihâqi (5/332) dan al-Baihâqi berkata: Ini sanad yang bersambung dan telah diriwayatkan dalam beberapa jalan dengan sanad yang terputus. Apabila dikumpulkan maka hadits ini menjadi kuat.

Jalan periwayatan ini dilemahkan oleh Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (8/467-468) dan Al-Qathân dalam bayan al-Wahm wal-Ihâm (3/525-526).

  1. Dari ‘Alqamah dari Abduillâh secara marfu’ dan ringkas dengan lafaz:

الْبَيْعَانِ إِذَا اخْتَلَفَا فِيْ البَيْعِ تَرَادَّا الْبَيْع

Apabila terjadi perselisihan dalam jual beli maka keduanya saling menggagalkan jual beli.

Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (2/59/3) dengan sanad yang dishahihkan al-Albani dalam Irwa al-Ghalil no. 1322.

  1. Dari Abu Qa`il dari Ibnu Mas’ud secara marfu’, beliau berkata:

إِذَا اخْتَلَفَ الْبَيْعَانِ , وَالْمَبِيْعُ مُسْتَهْلَكٌ , فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْبَائِع

Apabila terjadi perselisihan dalam jual beli dan barang telah terpakai. Pernyataan yang diambil adalah pernyataan penjual. Dikeluarkan oleh ad-Darâquthni (no. 297).

Dari keterangan para ulama diatas, Semua jalan periwayatan hadits ini yang banyak tidak lepas dari kritikan para ulama. Hal ini memunculkan perbedaan pendapat dalam menghukumi hadits ini. Diantara ulama yang memandang lemah pada hadits ini adalah imam asy-Syâfi’i (al-Umm 3/10 dan lihat as-Sunan al-Kubra 3/525), dan Ibnu Hazm (lihat al-Muhalla (8/467-468)). Sedangkan ulama yang menghukumi hadits ini dengan hasan atau sahih adalah al-Hâkim, al-Baihâqi (as-Sunan al-Kubra 3/525-526), Ibnu Abdil hâdi (at-Tanqiih 2/561) dan Ibnul Qayyim (lihat Jaami’ al-Fiqh karya Yusri Sayyid Muhammad 4/246) dan al-Albâni dalam al-Irwa’ (no. 1322).

Syeikh al-Albani menyatakan: ‘Kesimpulannya, hadits ini pasti sahih, karena sebagian jalan periwayatannya sahih dan sebagiannya hasan serta yang lainnya termasuk yang bisa dikuatkan’.

Dengan demikian jelaslah pendapat yang rojih adalah yang tidak menghukumi hadits ini sebagai hadits lemah (Dha’if) sebagaimana juga dirojihkan oleh Syaikh Muhammad bin Hizam dalam fathul ‘Allam 3/264 dan Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Adam dalam Syarah Sunan Nasâ`i 35/193. Wallahu a’lam.

 

MUFRODAT HADITS

 

(الْمُتَبَايِعَانِ) : Yang dimaksud di sini adalah penjual dan pembeli. (Fathul Jalâl wal Ikrâm, 3/475).

 (بَيِّنَةٌ) semua yang dapat menjelaskan kebenaran dan menampakkannya, baik berupa ikrar, persaksian atau selainnya. (Fathul Jalâl wal Ikrâm, 3/475).

(رَبُّ السِّلْعَةِ) : pemilik barang atau yang menjual barang. (Fathul Jalâl wal Ikrâm, 3/475)

 (يَتَتَارَكَانِ) : pembeli dan penjual bersepakat membatalkan transaksi jual-beli. (Fathul Jalâl wal Ikrâm, 3/475).

 

 

SYARAH HADITS

Dalam hadits yang mulia ini, Rasûlullâh membimbing kita semua untuk menyelasaikan perselisihan dan persengketaan yang terjadi diantara manusia, khususnya dalam jual beli. Beliau menjelaskan bahwa bila terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli untuk menyempurnakan transaksi diantara keduanya, lalu terjadi perselisihan dalam sebagian cara dalam jual beli, seperti perbedaan nilai pembayaran atau  kriteria atau yang lainnya. Kemudian tidak ada bukti yang memperjelas yang dimiliki masing-masing transaktor, seperti saksi atau bukti lainnya. Maka pernyataan yang diikuti adalah pernyataan penjual yang disebut dalam hadits ini dengan Rabb Sil’ah. Sebagian ulama memandang hal ini harus ditambah dengan sumpah penjual, karena sudah dikenal dari kaedah syariat bahwa orang yang pernyataannya dijadikan sandaran dalam peradilan maka wajib bersumpah. Walaupun pengertian tekstual dari hadits ini tidak membedakan antara penjual sebagai penuduh atau tertuduh dan juga bentuk perselisihannya. (lihat I’lâm al-Anâm Syarh Bulugh al Marâm 2/592)

Ibnul Mundzir pernah berkata: Aku tidak pernah mengetahui seorang pun yang berpendapat dengan dasar pengertian tekstual hadits ini kecuali Asy-Sya’bi. (Syarh Ilal at-Tirmidzi 1/24) Hal ini membuat sebagian ulama memandang ijma’ untuk tidak mengamalkan pengertian tekstual hadits ini.

Asy-Syaukâni mengomentari hadits ini dengan menyatakan, ‘Ketahuilah, tidak ada seorangpun ulama yang berpendapat dengan mengamalkan hadits ini dalam seluruh bentuk perselisihan sepanjang pengetahuanku, bahkan terjadi perselisihan yang panjang dalam masalah ini seperti yang ada dalam buku-buku fikih dan ada kesepakatan para ulama pada sebagian bentuknya dan perselisihan dalam bentuk yang lainnya. Sebab perbedaan pendapat dalam hal ini adalah adanya sabda Rasûlullâh:

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

Penuduh harus membawa bukti dan Yang tertuduh harus bersumpah (Nailul Authar 5/226).

Syeikh Ibnu Utsaimîn menjelaskan hadits ini dengan menyatakan, ‘Hadits ini seandainya kita memandang keumumannya, tentulah kita katakan semua perselisihan yang terjadi antara penjual dan pembeli, pernyataan yang diikuti adalah pernyataan penjual, apabila tidak bersumpah maka jual belinya digagalkan. Akan tetapi hadits ini tidak digunakan dalam semua hal menurut kesepakatan para ulama, karena para ulama tidak sepakat menjadikan pernyataan penjual sebagai dasar dalam semua bentuk perselisihan, bahkan sepakat hal ini tidak berlaku pada semua bentuknya. Ada bentuk perselisihan yang tidak mungkin menerima pernyataan penjual menurut kesepakatan para ulama. Ada juga bentuk perselisihan yang disepakati diterimanya pernyataan pembeli. Kalau demikian hadits ini tidak diamalkan secara kemutlakannya, akan tetapi juga harus merujuk kepada hadits lain yaitu:

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Penuduh harus membawa bukti dan yang mengingkari harus bersumpah. (Fathu Dzil Jalâl Wal Ikrâm, 3/477).

Wallahu a’lam.

 

Faedah Hadits

  1. Berkata Ibnu Abdilbar: Hadits ini menurut kebanyakan Ulama’ merupakan pondasi penetapan diterimanya persaksian, dan mereka juga membangun banyak sekali cabang dari hadits ini. (At Tamhîd 12/231).
  2. Hadits ini menunjukkan bukti yang bersifat menjelaskan dan menampakkan sebuah realita yang benar dengan sarana apa saja itu yang menjadi dasar sebut ketetapan hukum. (Fathu Dzil Jalâl wal Ikrâm 3/478).
  3. bolehnya mensifatkan manusia dengan Rabb karena sabda beliau: Rabb as-Sil’ah. (Fathu Dzil Jalâl (3/478).
  4. Kembali kepada asal dan beramal dengannya, berdasarkan sabda beliau:

فَالْقَوْلُ مَا يَقُولُ رَبُّ السِّلْعَةِ

maka perkataan yang benar ialah apa yang dikatakan oleh pemilik barang

karena pada asalnya penjual tidak mengeluarkan barangnya kecuali atas dasar pernyatannya, seakan-akan menyatakan bahwa barang itu tidak saya lepaskan kecuali dengan keridhoan saya.  Saya ridho dengan harga dan ketentuan saya.

  1. Apabila terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli dan salah satunya memiliki bukti kebenaran pernyataannya, maka yang dijadikan sandaran adalah yang membawa bukti.
  2. Semua perbedaan dan perselisihan kembali kepada pendapat penjual, apabila pembeli ridha dan bila tidak maka digagalkan transaksi jual belinya. Inilah pengertian teks dari hadits ini, namun hadits ini tidak dipakai secara umum dalam semua perselisihan. (Fathu Dzil Jalâl 3/479).

 

Fikih Hadits

Perselisihan penjual dan pembeli dalam masalah harga barang yang dijual.

Apabila seorang pembeli telah membeli satu barang dengan harga tertentu dan barangnya ada kemudian penjual dan pembeli berselisih tentang nilai harga barang. Penjual menyatakan harganya 2 juta dan pembeli menyatakan harganya 1 juta. Padahal tidak ada satu bukti pun yang menunjukkan kebenaran salah satu dari keduanya. Pendapat siapakah yang diambil dalam masalah ini?

Para ulama berselisih dalam beberapa pendapat:

 

pendapat pertama : Keduanya saling bersumpah tentang kebenaran yang dinyatakan. Apabila keduanya telah bersumpah maka digagalkan jual belinya. Inilah pendapat Ibnu Mas’ud dan asy-Sya’bi (lihat al-Muhalla 7/256 dan al-Mughni 6/278) dan ini adalah mazhab Abu Hanifah (lihat al-Mabsûth 13/29 dan Hâsyiyah Ibnu Abidin 5/591-592), asy-Syâfi’i (lihat al-Umm 8/185 dan Nihâytul Muhtâj 4/160) dan Ahmad bin Hambal (lihat al-Mughni 6/279 dan ar-Raudh al-Murbi’ 4/465) serta satu riwayat dari Malikiyah (lihat Bidâyatul Mujtahid 2/144 dan adz-Dzakhîrah 5/322). Ibnu Rusyd menisbatkannya kepada mayoritas ulama dengan menyatakan, Ahli fikih berbagai negeri sepakat keduanya bersumpah dan digagalkan jual belinya. (Bidâyatul Mujtahid 2/144).

Dasar pendapat ini adalah:

  1. Hadits Ibnu Mas’ud bahwa Nabi bersabda:

إِذَا اخْتَلَفَ الْمُتَبَايِعَانِ وَالسِّلْعَةُ قَائِمَةٌ وَلاَ بَيِّنَةَ لأَحَدِهِمَا تَحَالَفَا

apabila penjual dan pembeli berselsisih dan barangnya masih ada tanpa ada bukti untuk salah seorang darinya maka keduanya saling bersumpah.

Hadits dengan redaksi “ تَحَالَفَا ” tidak dikenal dalam buku-buku hadits sebagaimana dijelaskan Ibnu Hazm (lihat al-Muhalla 7/258), as-Zarkasyi (Syarh as-Zarkasyi 3/614-615) dan Ibnu Hajar (lihat at-Talkhîsh al-Habîr 3/31-32) serta al-Albâni (lihat Irwâ’ al-Ghalîl 5/171).

  1. Hadits Ibnu ‘Abbâs bahwa Nabi bersabda:

لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لذَهَبَ دِمَاءُ قَوْمٍ وَأَمْوَالُهُمْ اليَمِينُ عَلَى المُدَّعَى عَلَيْهِ

seandainya orang diberi dengan dasar klaim mereka, pastilah hilang jiwa dan harta satu kaum. Sumpah atas orang yang tertuduh. (muttafaqun ‘alaihi).

Setiap dari penjual dan pembeli sama-sama menuduh dan tertuduh, karena penjual menuduh (mengklaim) harta yang lebih tinggi dan pembeli mengingkarinya. Pembeli menuduh (mengklaim) barang dengan harga lebih rendah dan penjual mengingkari, sehingga setiap darinya harus bersumpah atas pengingkarannya sebagai wujud mengamalkan hadis ini. (lihat al-istidzkâr 20/240).

 

pendapat kedua : Pendapat yang diambil adalah pernyataan pembeli. Ini adalah satu riwayat dari Ahmad (lihat al-Furu’ 4/125 dan al-Inshâf 4/446) dan pendapat Abu Tsaur dan Dawud (lihat al-Istidzkaar 20/240 dan Bidâyatul Mujtahid 2/144).

Dasar pendapat ini adalah :

  1. Penjual mengaku nilai harga yang lebih dan pembeli mengingkari tambahan tersebut maka pernyataan yang dipegang adalah pernyataan yang mengingkari. (lihat al-Mughni 6/279 dan Bidâyatul Mujtahid 2/145)
  2. Sesungguhnya kepemilikan itu milik pembeli sehingga diterima pernyatannya. (lihat Nazhariyatul ‘Aqd hlm 156).

 

pendapat ketiga : Apabila perselisihan terjadi sebelum serah terima, Maka keduanya harus bersumpah dan bila terjadi setelahnya maka pendapat yang diambil adalah pendapat pembeli. Ini adalah riwayat dari Maalik (lihat al-Isyrâf 1/284 dan al-Istidzkâr 20/240) dan riwayat kedua dari Ahmad (lihat al-Inshâf 4/446).

pendapat keempat : Pernyatan yang diambil adalah pernyataan pembeli apabila pembeli ridha dan bila tidak ridha maka jual beli digagalkan. Ini adalah pendapat asy-Sya’bi (lihat al-Mughni 6/279 dan al-Muhalla 7/256) dan riwayat dari Ahmad (lihat al-Mughni 6/279) serta dirojihkan as-Zarkasiy (Syarhu as-Zarkasyi 3/615) dan Ibnu Taimiyah (lihat Nazharatul ‘Aqd hlm 156).

Dasar pendapat ini adalah hadits Ibnu Mas’ud diatas dan penjual hanyalah mengakui jual beli seperti itu sehingga tidak harus mengikuti pernyataan selainnya.  Demikian juga pada asalnya dalam jual beli harus dengan saling ridha dan penjual tidak rida dengan selain yang disampaikannya dan pembeli waktu itu belum memberi apa-apa dan sudah menerima barang. Sehingga yang dirugikan adalah penjual bukan pembeli.

Juga mereka berkata barang asalnya milik penjual dan pembeli mengklaim berpindahnya kepemilikan dengan pembayaran dan penjual mengingkarinya kecuali dengan pembayaran yang sudah ditetapkannya, sehingga pernyataan yang diambil adalah pernyataan yang mengingkari. (Syarah as-Zarkasyi 3/616-617).

 

Sebab Munculnya Perbedaan Pendapat.

Diantara sebab munculnya perebdaan pendapat dalam masalah ini adalah:

  1. Perbedaan pendapat tentang keabsahan sebagian lafaz hadits Ibnu Mas’ud (Lihat Bidâyatul Mujtahid 2/145)
  2. Tidak sampainya hadits Ibnu Mas’ud ini pada sebagian ulama atau dihukumi lemah dan tidak sahih menurut mereka, karena belum sampainya semua jalan periwayatan kepada mereka.
  3. Setiap dari pembeli dan penjual sama-sama yang mengklaim (Mudda’i) dan yang mengingkari (Mudda’in Alaihi). Lalu terjadilah perbedaan dalam penerapan kaedah dengan dakwa dalam hadits Ibnu Abbas tersebut. (lihat Nazhariyatul ‘Aqad hlm 157).

 

Tarjih.

Dari dasar argumentasi pendapat yang ada dan sebab perbedaan pendapat ini dapat di analisa bahwa yang rojih menurut penulis adalah pendapat keempat dengan dasar:

  1. Keabsahan hadits Ibnu Mas’ud, sehingga Ibnu Taimiyah menyatakan
  2. kuatnya alasan pendapat keempat,

wallahu a’lam.

Related posts

Dzikir Amalan Terbaik dan Tersuci

Klik UK

Urgensi Niyat Sebuah Amalan

Klik UK

Tiga Wasiat Agung Nabi

Klik UK