Image default
Artikel Mutiara Hadits

Kesucian Air laut

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أ

terjemah

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (hukum) air laut: Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.

 

Penjelasan Hadits.

Hadits ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:

Biografi Perawi Hadits.

Perawi hadits ini adalah sahabat Nabi yang mulia Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Hurairoh”. Beliau masuk islam pada tahun peristiwa perang Khaibar dan mulazamah (belajar) kepada Nabi sehingga menjadi sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits Nabi.

Beliau menjadi salah satu ulama besar dan ahli fatwa dikalangan sahabat dan terkenal dengan kewibawaan, ibadah dan sifat rendah hatinya. Imam al-Bukhori menyatakan, beliau memiliki delapan ratus murid atau lebih.

Beliau meninggal dunia di kota Madinah pada tahun 57 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi’..

Takhrij Hadits.

Hadits ini dikeluarkan oleh Malik di Muwath-tho’nya (I/45 –Tanwiirul Hawalik syarah Muwath-tho oleh Suyuthi), Syafi’iy di kitabnya Al Umm (I/16), Ahmad di Musnadnya (2/232,361), Abu Dawud dalam sunannya (no: 83), Tirmidziy (no: 69), Nasaa-i dalam sunannya (1/50, 176), Ibnu Majah dalam suannya (no: 43), Ad Darimi dalam sunnanya (1/186), Ibnul Jaarud dalam al-Muntaqaa’ (no: 43), Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih ibnu Khudzaimah (no: 777), Ibnu Hibban dalam shahihnya (no: 119 –Mawarid), Hakim dalam al-mustadrak (1/140-141), ibnu Abi Syaibah dalamal-Mushannaf (1/131) dan lain-lain, semuanya dari jalan imam Malik dari Sofwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah (ia berkata:) sesungguhnya Mughirah bin Abi Burdah telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata:

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ.

“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.

Hadits ini telah di-shahih-kan oleh jama’ah ahli hadits, diantaranya:

  1. Imam al-Bukhari, ketika ditanya oleh imam at-tirmidzi tentang hadits ini, beliau menjawab : hadits ini
  2. Imam at-Tirmidziy, ia berkata: hadits ini hasan shahih.
  3. Imam Ibnu Khuzaimah.
  4. Imam Ibnu Hibban.
  5. Imam al-Hakim.
  6. Ath-Thahawi
  7. Al-Baihaqi
  8. Ibnu Abdil barr dalam at-Tamhied 16/218-219: Hadits ini menurutku shahih, karena para ulama telah menerima hadits ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum.
  9. Ibnul Mundzir.
  10. Ibnu Mandah.
  11. Al Baghawiy.
  12. Al-Khathabi
  13. Abdulhaq al-Isybili
  14. Ibnu Taimiyah
  15. Ibnu Katsir
  16. Ibnul Atsir, ia berkata: ini hadits yang shahih lagi masyhur, telah dikeluarkan oleh para imam di kitab-kitab mereka, dan mereka telah berhujjah dengannya dan rawi-rawinya tsiqaat.
  17. Ibnu Hajar
  18. Al Albani, beliau menyatakan: ini sanadnya shahih semua perawinya tsiqah (kredibel). (irwa’ al-Ghalil 1/43)

Hadits di atas pun telah mempunyai beberapa jalan (thuruq) selain dari jalan imam Malik. dan juga telah mempunyai syawaahid dari jama’ah para sahabat, diantaranya: Jabir bin Abdillah, Al Firaasiy, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Amru, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman alibasaam menyatakan: Hadits ini dishahihkan oleh para ulama diantaranya: al-Bukhori, al-Haakim, ibnu Hibaan, ibnu Mundzir, ath-Thahawi, al-baghawi, al-Khathabi, ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, ibnu Hazm, ibnu Taimiyah, ibnu Daqiqil Ied, ibnu Katsier, ibnu Hajar dan lainnya sampai lebih dari 36 imam. (taudhih al-Ahkaam, 1/115).

 

Penjelasan Kosa kata Hadits

 (هو الطَّهور ماؤه). Kata الطَّهور dalam bahasa arab adalah shighat mubalaghah bermakna suci dan mensucikan. Dibaca dengan difathahkan huruf tha’nya bermakna sesuatu yang dipakai untuk bersuci. Kata ganti   هو kembali kepada laut. Sehingga (هو) dalam bahasa arab kedudukannya adalah Mubtada’ dan(الطهور)   adalah mubtada’ kedua, sedangkan kata (ماؤه) adalah khobar atau faa`il untuk kata (الطهور) , karena dia adalah shighah mubalaghah.  Jumlah susunan mubtada’ kedua dan khobarnya menjadi khobar bagi mubtada` pertama. Susunan ini dalam bahasa arab berisi pembatasan sifat kepada maushuf (yang dishifati). Berarti maknanya membatasi kesucian hanya pada air laut. Pembatasan ini tidak hakiki, karena kesucian ada pada selain air laut juga. Maka ia sebenarnya adalah pembatasan tertentu (qashru Ta’yiin); karena penanya bimbang antara kebolehan berwudhu dan tidak, sehingga Rasulullah menentukan kebolehannya.

(الحِلُّ ميتته) demikian tanpa adanya huruf sambung wawu. Kata(الحل)  dengan dikasrohkan huruf ha’nya, dalam bahasa arab adalah mashdar dari  حلَّ يَحِلُّ yang menjadi anonim kata haram. Sedangkan kata (ميتته)  dengan difathahkan huruf mimnya adalah semua hewan laut yang mati tanpa sembelihan syar’i seperti ikan

 

Pelajaran yang dapat diambil dari Hadits:

  1. Kedudukan hadits ini disampaikan imam Syafi’i dengan ungkapan: Hadits ini separuh ilmu thaharah. Juga ibnu al-Mulaqqin menyatakan: Hadits ini hadits yang agung dan salah satu pokok thaharah berisi banyak sekali hukum dan kaedah penting.
  2. Bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui sesuatu masalah agama, mengamalkan perintah Allah di dalam Al Quran:

Betanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu.

  1. Semangat sahabat dalam mencari dan menerima ilmu dari Rasulullah. Hal ini nampak dari sebab adanya hadits ini berupa pertanyaan mereka kepada Rasulullah.
  2. Bertanya merupakan satu cara mendapatkan ilmu yang sangat penting.
  3. Bolehnya seorang menjawab pertanyaan melebihi dari yang ditanyakan, apabila penanya membutuhkannya. Sebab dalam hadits ini, orang yang naik perahu butuh mengenal hukum bangkai hewan laut. Disini Rasulullah memberikan fatwa ini karena mereka butuhkan dan mungkin juga selain mereka membutuhkannya. Oleh karena itu seorang mufti bila melihat kebutuhan penanya tentang sesuatu yang belum ditanyakan, maka disyariatkan untuk menambah melebihi pertanyaan. Apabila tidak maka jawaban hendaknya sesuai dengan pertanyaan saja.

Syeikh al-Basaam menyatakan: Pentingnya menambah keterangan dalam fatwa atas satu pertanyaan. Hal itu apabila mufti menganggap penanya tidak mengerti hukum tersebut atau ia tertimpa masalah tersebut. Sebagaimana dalam bangkai hewan laut pada orang yang menyeberangi lautan. Ibnul Arabi menyatakan: Itu termasuk nilai-nilai posotif fatwa dengan menjawab melebihi pertanyaan untuk menyempurnakan faedahnya dan menyampaikan ilmu yang tidak ditanyakan. Ini akan sangat penting apabila nampak kebutuhan terhadap hukum tersebut. (taudhih al-Ahkaam 1/117).

  1. Ilmu terlebih dahulu sebelum beramal.
  2. Boleh berlayar mengarungi lautan meskipun bukan untuk berjihad.
  3. Membawa bekal ketika safar menyalahi perbuatan kaum shufi.
  4. Kewajiban memelihara dan menjaga diri dari kebinasaan seperti kelaparan dan kehausan.
  5. Dari kaedah ushul: “Menolak kerusakan didahulukan dari mengambil manfaat.”
  6. Bahwa syari’at Islam itu sangat mudah bagi mereka yang faham dan ikhlas.
  7. Bahwa seseorang tidak dibebani kecuali semampunya.
  8. Bahwa syari’at Islam selalu memberikan jalan keluar bagi segala kesulitan.
  9. Air laut itu suci dan mensucikan. Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyatakan: Air lau suci mensucikan seluruhnya tanpa pengecualian. (fathuljalal walikram 1/60)
  10. Bangkai binatang laut itu halal dan suci, sebab dalam kaedah dikatakan: Semua yang halal itu suci dan tidak semua yang suci itu halal. Setiap najis itu haram dan tidak semua yang haram itu najis. (Fathuljalal walikram 1/60).
  11. Bolehnya berwudlu dengan air yang telah bercampur dengan sesuatu sehingga berubah rasanya, atau baunya atau warnanya selama tidak kemasukan najis, dan selama penamaannya tetap air, bukan yang telah berubah menjadi air teh atau kopi, dan lain-lain.
  12. Islam mengatur hidup dan kehidupan manusia, dunia mereka dan akhirat mereka.
  13. Air laut suci mensucikan tidak keluar dari hukum ini sama sekali. Oleh karenanya diperbolehkan bersuci dengan air laut dari hadats kecil atau besar serta najis.
  14. Penjelasan hukum bangkai hewan laut yang tidak hidup kecuali di
  15. Pengertian hadits ini menunjukkan pengharaman bangkai hewan darat.
  16. Kewajiban merujuk kepada ulama ketika ada masalah, karena sahabat ini merujuk kepada Rasulullah ketika mendapatkan masalah dalam bersuci dengan air laut.
  17. Para sahabat tidak bersuci dengan air laut, karena asin bergaram dan baunya amis. Air yang demikian adanya tidak diminum sehingga para sahabat menganggap yang tidak diminum tidak bisa digunakan untuk bersuci. Rasulullah tidak menjawab hanya dengan kata “iya” ketika mereka bertanya: “apakah kami boleh berwudhu dengannya?”, agar kebolehan berwudhu dengannya itu terfahami tidak terikat dengan keadaan darurat semata bahkan utntuk semua keadaan. Juga agar tidak difahami kebolehan tersebut hanya untuk berwudhu semata, namun boleh untuk menghilangkan hadat besar dan mensucikan najis.

Related posts

Berjihad dengan Niyat

Klik UK

Meruqyah Orang Sakit dengan Bacaan Al-Qur’an, Dzikir-dzikir dan do’a-do’a dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Klik UK

Dibangkitkan sesuai niyatnya

Klik UK