Image default
Nasehat

Mengelola Cinta Dengan Kerinduan Surga

Mencintai orang lain adalah hak siapapun. Terlebih, bila itu adalah cinta fithrah. Kita memiliki orang tua yang kita cinta, sahabat yang kita cintai, dan suatu saat bagi yang belum menikah isteri dan anak-anak yang akan kita cintai.

Dengan mereka, kita berbagi kasih dan cinta. Kepada mereka kita mengutarakan cinta. Namun, kemanakah sesungguhnya cinta itu membawa kita? Ke Surga kah? Atau justru ke Neraka?

 

Cinta, Antara Fitrah dan Hasrat Duniawi

Benarlah, ketika Allah menegaskan sifat manusia,

“Manusia itu adalah makhluk yang paling banyak membantah..” (Al-Kahfi : 54)

Dan benar pula, ketika Allah berfirman,

“Manusia itu lebih mengetahui tentang dirinya sendiri, meski ia mengungkapkan berbagai alasannya..” (Al-Qiyaamah : 14-15)

Mencintai orang tua, sahabat atau siapapun, terkadang merupakan fithrah, terkadang datang melaui adanya hubungan interaksi antar sesama. Kita sering kali mengatakan, bahwa kita mencintai orang tua karena itu adalah fithrah. Saya mencintai sahabat saya, karena itu datang secara alami. Tapi, benarkah demikian adanya? Belum tentu.

Kemurnian cinta kita, hanya dapat dibuktikan dengan kemurnian tujuan dari cinta tersebut. Mari kita renungi kembali, firman Allah dalam Al-Quran berikut ini, yang mungkin sudah kerap kita baca,

” Dihiaskan pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).

Katakanlah:”Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran : 14-15)

Kecintaan itu adalah fithrah, atau hanya sebuah proses alami, selama cinta itu hanya menjadi cinta. Namun saat cinta itu sudah berbalur ambisi, berinteraksi dengan emosi, melibatkan khayalan dan fantasi, yang kesemuanya itu tidak dibatasi dengan nilai-nilai akhirat, cinta itu berubah wujud menjadi CINTA DUNIA dan RASA TAKUT  terhadap mati. Bila sudah demikian, manusia akan menjadi budak dari ambisinya.

Kita mencintai orang tua, karenanya kita berambisi bekerja keras demi kebahagiaan keduanya? Sah-sah saja. Itu naluriah. Namun ketika ambisi itu menjerat hati kita, sehingga kebahagiaan dunia kedua orang tua kita adalah segalanya, karenanya kita juga berani melanggar aturan-aturan Allah yang menciptakan hidup ini buat kita,  kita akan binasa karena cinta itu.

Karena, seorang perampok, pejudi, atau koruptor sekalipun, senang membahagiakan orang tua dengan uang-uang haram yang mereka hasilkan.

Konon, ada penjahat hebat dan legendaris di tahun 1930-an, yang bisa membunuh orang karena urusan paling sepele, berdarah dingin, tapi memberikan segala yang dia punya, demi kakak perempuan, dan kedua orang tua kandungnya!!

Itukah cinta sejati? Bukan.

Allah sudah mengingatkan, bahwa “..dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)…”

Itu artinya, kecintaan kita kepada apa dan siapapun di dunia, harus dibalut kerinduan terhadap Surga di sisi Allah.

Sudahkah kita mencintai orang tua, dan karena cinta itu kita ingin mengejar Surga?

Sudahkah kita mencinta sahabat-sahabat kita, dan karena cinta itu kita ingin menggapai Surga?

Ajaklah orang-orang yang engkau cintai mengejar Surga, maka cintamu kepadanya akan membuatmu semakin merindukan Surga. Itulah cinta beraroma Surga.

“Katakanlah:”Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”

 

Hati Mencinta, Merindukan Surga

Banyak orang yang kala memandang orang tuanya yang sudah tua renta, maka yang terbayang adalah, “Berapa banyak aku sudah memberikan kebahagiaan dunia kepadanya?”

Sedikit di antara kita yang apabila memandang wajah  kedua orang tuanya, lalu berpikir, “Ilmu akhirat apa yang telah aku ajarkan kepada mereka, sebagai balasan dari segala yang telah mereka berikan kepadaku? Seberapa sering aku mengajak mereka untuk sama-sama bertakwa kepada Allah yang MahaKuasa?”

Saat kita memandang segala sesuatu dengan kerinduan Surga, maka segala sesuatu itu akan menampakkan keindahan cinta yang sesungguhnya.

Pandanglah anak kecil yang masih polos dan lugu. Betapa kita menginginkan kepolosan dan kejernihan pikirannya itu, untuk lebih mampu khusyu dalam shalat, menghapal Al-Quran dengan lebih mudah, menatap kehidupan dengan sederhana saja.

Tataplah sosok orang-orang yang sudah tua. Kita akan melihat betapa kita memerlukan kebijakan mereka, pengalaman mereka, dan ketabahan hati mereka, untuk menghadapi segala kepayahan hidup ini. Agar kita bisa menjadi hamba yang lebih tabah dan lebih bersyukur.

Di wajah anak-anak kecil itu, kita melihat keluguan yang telah lama hilang dalam diri kita.

Di wajah orang-orang tua itu, kita melihat dekatnya kematian, tuanya kehidupan dunia ini, dan kepayahan menghadapi hidup yang harus dibayar dengan kebahagiaan Surga. Tapi, sudahkah  kita mengupayakannya?

Betapa bagus, ungkapan seorang pujangga Arab yang sudah tua renta,

“Andaikata masa muda itu datang kembali, akan kukabarkan kepadanya, apa saja yang dialami orang-orang di masa tua…”

Saat kita melihat siapapun, berbuatlah yang terbaik, agar kitapun menunai segala yang terbaik buat diri kita.

Saat memandang anak-anak kecil, ajarkanlah kebaikan, segala kebaikan yang kita tahu, bahkan yang selama masa kecilpun kita tak pernah melakukannya. Berharaplah mereka menjadi jauh lebih baik dari diri kita di masa lalu, dan diri kita di masa sekarang ini.

Saat melihat orang-orang tua, ajarkanlah kepada mereka bekal menuju kematian, selain membantu mereka meniti sisa hidup dengan bahagia. Semoga Allah meringankan tangan orang lain untuk membimbing kita menutup hidup dengan baik, saat kitapun harus menjalani masa tua seperti mereka.

Berharaplah mereka beroleh husnul khaatimah, sebagaimana kitapun mengharapkan itu untuk diri kita.

Saat kita merindukan Surga, maka hati kita dipenuhi cinta kasih terhadap manusia dan sesama, dan berharap mereka  juga dapat menggapai Surga, seperti yang kita harapkan untuk diri kita. Benarlah, yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghier,

“Orang yang penuh kasih, akan dikasihi oleh Allah Yang MahaPengasih. Kasihilah makhluk di muka bumi, maka Allah yang Ada di langit akan mengasihimu…”

Sahabat, kelolalah cintamu, karena Allah, dan demi Surga-Nya. Maka, akupun mencintamu karena-Nya….

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi : 28)

 

Related posts

Mensucikan Jiwa Dengan Haji

Klik UK

Berbicara Sesuatu Yang Menyenangkan Istri

taujago

Dahsyatnya Kedudukan Syukur

Klik UK