Image default
Sejuk Hati

Hakekat Zuhud (Ke-dua)

Makna dan hakikat zuhud yang telah dijelaskan terdahulu juga diungkapkan dalam Al-Qur’an. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Memang dalam ayat ini tidak disebutkan lafazh kata zuhud, namun Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan dengan jelas seputar makna dan hakikat zuhud.

Lihatlah bagaimana dalam ayat ini Allah menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara sebagai kesenangan yang menipu dan melalikan. Bagaikan tanaman yang hijau nan indah yang kemudian kering berwarna kuning dan hancur. Hal ini menegur kita semua yang telah terpedaya oleh perhiasan dunia dan lalai dari kebahagiaan dan hakikat akhirat yang kekal. Lalu Allah perintahkan untuk mendahulukan akherat dari perhiasan dunia yang menjadi hakekat dari sikap zuhud. Ditutup dengan anjuran Allah kepada orang-orang beriman untuk berlomba meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat.

Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan.

Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia untuk bersikap zuhud.

Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia  dan hakikat akhirat. Kedua hal ini menuntut seorang muslim belajar kembali ajaran agamanya.

Hakekat zuhud ini juga di jelaskan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mendidik para sahabatnya untuk bersikap zuhud. Beliau memberikan panduan seorang muslim menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR Bukhari).

Selanjutnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak cukup hanya memerintahkan semata, tapi juga mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Beliau tidak pernah menunda amal kebaikan dan tidak pernah bergantung hatinya kepada harta dan perhiasan dunia.

Lihat begitu sederhana dan bersahajanya kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah menjelaskan keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam pernyataan beliau:

نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً فَقَالَ مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Rasulullah tidur di atas kain tikar sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah ! Bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Demikianlah hakekat zuhud yang benar, semoga Allah memberikan kepada kita kemudahan merealisasikannya dalam kehidupan kita. Amien!

Related posts

Agar Iman Menjadi Sempurna

Klik UK

Cara mendapatkan Qanaah

Klik UK

Hakekat Wara’

Klik UK