Image default
Artikel

Syarah kitab Bulugh al-Maraam – Pen

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta langit dan bumi, yang menjadikan kegelapan dan cahaya yang terang, sementara mereka -orang-orang kafir- itu tetap melakukan pengingkaran. Nikmat Allah tidak dapat dihitung, sehingga orang yang bertahmid pun tidak dapat menunaikan syukur secara sempurna kepada-Nya, serta tidak ada seorang pun yang dapat mensifati keagungan-Nya; Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi, dan bila berkehendak maka cukuplah Dia berkata “kun”, maka jadilah.

Aku memuji dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Aku memohon pertolongan kepada-Nya baik saat lapang maupun sempit. Aku bertawakkal kepada-Nya atas segala ketetapan dan ketentuan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan yang benar) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan aku berkeyakinan bahwa tidak ada Rabb selain Dia.

Aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba-Nya. Dia adalah al-amin (terpercaya). Dia adalah Rasul-Nya yang paripurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya keyakinan yang mantap. Dia telah menunaikan amanah, menjelaskan risalah dengan baik. Dia telah memberikan peringatan kepada umat, menyingkap segala yang kabur, memerangi setiap yang menjadi penghalang kebenaran. Dia telah beribadah kepada Rabbnya hingga akhir hayat. Sehingga pantaslah bagi sayyid al-mursalin shalawat dan taslim, kepada ahlu bait beliau yang mulia, kepada para sahabatnya yang menjadi pilihan umat, kepada isteri-isterinya ummahat al-mu’minin yang suci, dan kepada setiap insan yang mengikuti jejak dan langkahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du,

Imam al-Khathib al-Baghdadi [1]berkata:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan sekolompok dari umat ini sebagai pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada mereka untuk senantiasa mentaati-Nya, tetap istiqamah meniti jalan orang-orang yang baik (abraar) dalam mengikuti Sunnah dan atsar para sahabat. Menghiasi hati dengan keimanan dan memudahkan lisan dalam menjelaskan hukum agamanya, serta mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam secara berkesinambungan, terus-menerus. Mereka pergi dan melakukan safar meninggalkan keluarga dan negerinya, demi mengumpulkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menolak bid’ah, menggali khazanahnya dengan meninggalkan filsafat dan ilmu kalam. Lalu muncullah satu kaum yang memfokuskan diri untuk belajar hadits. Mereka mencarinya dengan melakukan perjalanan jauh dan menuliskannya, menanyakan dan menghafalnya, mengulang-ulang hafalannya dan menyebarkannya kepada umat. Mereka ber-tafaqquh dan membuat kaidah-kaidah agama serta memfokuskan segala tenaga untuk itu, sehingga berhasil membedakan hadits yang mursal dari yang muttasil, yang mauquf dari yang munqati’, yang nasikh dari yang mansukh, yang muhkam dari yang mukhtalaf, yang mufassar dari yang mujmal, yang masih berlaku dari yang tidak berlaku lagi, yang gharib dari masyhur.

Mereka mampu meninggalkan perawi yang dicela dan orang-orang lemah yang ditinggalkan, menyingkap perawi yang tidak dikenal (majhul), yang telah diganti atau ditukar sebagai bentuk tadlis dan yang berisi talbis, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menjaga keaslian agama ini melalui tangan-tangan mereka dan melindunginya dari tangan-tangan orang jahil yang jahat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai pemimpin kebenaran pada saat terjadi perselisihan, dan menjadi penerang dalam masalah-masalah baru yang menimpa umat. Mereka itulah para pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta menjadi rujukan umat pilihan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan Ahlu al-Hadits sebagai penjaga syari’at dan melalui mereka membasmi segala bid’ah. Mereka adalah duta Allah dari kalangan makhluk-Nya, dan penghubung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya, serta para mujtahid yang bersungguh-sungguh mengokohkan agama-Nya. Cahaya mereka selalu bersinar, keutamaan mereka senantiasa hidup, madzhab mereka dikenal dan hujjah mereka terdepan. Semua kelompok yang mengutamakan hawa nafsu akan kembali atau menganggap baik pendapat yang dimilikinya saja, kecuali Ahlu al-Hadits, bahwa mereka menjadikan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bekal dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang suci sebagai hujjahnya.

Ahlu al-Hadits, mereka adalah kelompok Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan hanya menisbatkan diri kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saja, sama sekali tidak tertarik kepada hawa nafsu, dan mereka juga mengabaikan pendapat akal. Setiap yang diriwayatkan mereka dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu diterima. Mereka dipercaya sebagai penjaga agama dan syari’atnya.

Ahlu al-Hadits merupakan pengusung dan sumber ilmu. Mereka adalah para ulama besar, para faqih, para khatib (mubaligh), qari yang handal. Mereka hakikat al-Jumhur al A’zham (Ahlus Sunah wal-Jama’ah). Jalan mereka adalah jalan yang lurus. Barangsiapa berupaya berbuat makar pada mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memurkainya. Barangsiapa memusuhi mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merendahkannya. Orang yang menyelisihnya tidak akan merugikannya, dan beruntunglah orang yang tidak meninggalkannya. Orang yang menjaga agamanya membutuhkan bimbingan mereka, dan kecelakaanlah bagi orang yang memandang jahat kepada mereka. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk memenangkan mereka.[2]

Demikianlah para ulama ahli hadits berjuang menjaga sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan menyebarkannya, hingga akhirnya mereka menjadi penjaga agama dan tegaknya hujjah. Mereka pantas mendapatkan keutamaan dan kedudukan tinggi, karena menjaga agama ini dan menyampaikan kabar tentang al-Qur`an dan Sunnah kepada umat ini.

Mereka memberikan perhatian sangat besar kepada sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan mengumpulkan, menghafal dan menuliskannya. Sehingga muncul banyak kitab berisi hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, diantaranya berupa Muwath’aat, al-Jawaami’ dan yang lainnya. Termasuk diantaranya adalah kitab al-Ahkaam.

KITAB-KITAB AHADITS AL-AHKAAM

Menurut istilah Ahlu al-Hadits, definisi kitab Ahaadits al-Ahkam adalah kitab-kitab yang hanya mencakup hadits-hadits mengenai hukum saja. Hadits-hadits tersebut diambil oleh penulisnya dari kitab-kitab rujukan hadits induk yang dikeluarkan dan disusun berdasarkan bab-bab fiqh.

(lihat, Al-Jamaaz, Jammaz bin Abdurrahman, artikel berjudul Min Asyhaar Kutub al-Ahkaam, yang di tulis dalam website  https://www.feqhweb.com/vb/t7628.html ).

Kitab Ahadits al-Ahkam disini adalah matan hadits yang dipisahkan dari sanadnya yang ditulis para ulama untuk dihafal dan bukan yang dimaksudkan buku-buku yang besar berupa Kitab-kitab hadits induk yang meriwayatkan hadits-hadits dengan sanadnya, walaupun ada disana hadits-hadits hukumnya juga. sangat banyak jumlahnya. Jadi yang dimaksud kitab ahadits ahkam adalah kumpulan matan yang tidak bersanad untuk hadits-hadits hukum fikih sesuatu bab-bab yang sudah masyhur dan digunakan para ulama. (keterangan Syeikh Dr. Abdulkarim bin Abdullah al-Khudhair dalam fatwa beliau. Lihat https://shkhudheir.com/fatawa/769982147 ).

 

dan diantara yang masyhur ialah sebagai berikut.

  1. Al-Ahkaam al-Kubra, karya al-Imam al-Muhadits Abu Muhammad Abdilhaq bin Abdurrahman al-Isybili. Beliau Rahimahullah dikenal dengan nama Ibnul-Kharaath, hidup antara tahun 510-581 H. Kitab yang terdiri dari lima jilid ini disusun oleh beliau Rahimahullah mengambil dari kitab-kitab sunnah. Di dalam kitab ini terkumpul hadits-hadits ahkaam dan disampaikan dengan sanad. Kitab al-Ahkaam al-Kubra ini tidak lepas dari kritik, diantara yang mengkritisi kitab ini adalah al-Hafizh an-Naaqid Abul-Hasan Ali bin Muhammad bin al-Qath-than (wafat 628 H) melalui kitabnya, Bayanul- Wahm wal-Ihaam al-Waqi’in fi Kitabil-Ahkaam.[3]
  1. Al-Ahkaam al-Wustha, karya Abdilhaq al-Asybili juga, terdiri dari dua jilid, dan disebutkan dalam khutbahnya bahwa diamnya beliau terhadap sebuah hadits menunjukkan ke-shahih-an hadits tersebut. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Ahkaam al-Kubra dengan menghapus sanad-nya. Kitab ini telah dicetak dalam empat jilid dengan tahqiq Shubhi as-Saamira`i dan guru saya Syaikh Hamdi Abdulmajid as-Salafi, diterbitkan oleh Maktabah ar-Rusyd, tahun 1416 H. Manuskrip dua kitab ini telah dijelaskan keberadaan dan tempat penyimpanannya oleh Shubhi as-Saamira`i dan guru saya, yaitu Syaikh Hamdi Abdulmajid as-Salafi dalam muqaddimah tahqiq beliau berdua atas kitab Ahkaam al-Wustha (lihat jilid pertama, hlm. 57, kitab al-Ahkaam al-Wustha). Kemudian Abu Abdirrahman bin ‘Uqail azh-Zhaahiri mengeluarkan dua jilid dari kitab al-Ahkaam al-Kubra dan ash-Shughra, dan beliau menamakannya asy-Syuruuh wa at-Ta’liqaat ‘ala Kutub al-Ahkaam, dicetak dalam dua jilid.[4]
  1. Al-Ahkaam ash-Shughra, karya Abdilhaq juga. Beliau Rahimaullah menyebutkan dalam khutbahnya, bahwa pilihan terhadap hadits yang shahih sanadnya dalam kitab ini merupakan hal biasa di kalangan kritikus hadits. Kitab yang hanya satu jilid ini di-syarah lagi oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Marzuq[5] (wafat tahun 781 H). Kitab al-Ahkaam ash-Shughra dicetak dalam dua jilid dengan tahqiq Ummu Muhammad bintu Ahmad al-Hulais dengan bimbingan Syaikh Khalid bin Ali bin Muhammad al-‘Anbari, dan diterbitkan Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo dan Maktabah al-Ilmi, Jeddah pada tahun 1413H. Dalam kitab ini, Imam Abdulhaq al-Isybili meringkas sanad dan mencukupkan dalam takhrij haditsnya pada satu sumber rujukan saja agar mudah dihafal. Kitab ini memiliki keistimewaan dalam penyampaian hadits-hadits, dan tidak hanya mencukupkan pada hadits halal dan haram saja, bahkan beliau Rahimahullah menambah dengan banyak bab sunnah lainnya. Pengarang disini memberikan perhatian terhadap kata-kata yang sulit (gharib al-hadits) dan memberikan penjelasan maknanya secara ringkas.
  1. Al-Umdah al-Kubra fii Ahaadits al-Ahkaa(العمدة الكبرى في أحاديث الأحكام) karya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdulghani bin Abdilwahid al-Maqdisy al-Jama’ili (wafat th. 600 H). Kitab ini tidak sama dengan kitab ‘Umdah al-Ahkaam yang terkenal. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Dr. Rif’at Fauzi Abdulmuthalib, diterbitkan Maktabah al-Ma’arif di Riyaadh. Selain itu juga di-tahqiq Samir bin Amin az-Zuhairi dan diterbitkan Daar al-Bayaan pada cetakan pertama tahun 1422 H.
  2. Umdatul-Ahkaam an Sayyidil-Anaam, karya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdulghani bin Abdilwahid al-Maqdisy al-Jama’ili (wafat tahun 600 H). Kitab ini merupakan salah satu kitab hadits ahkaam yang penting dan ringkas, karena seluruh hadits-haditsnya shahih, dan mayoritas muttafaqun ‘alaihi. Ada juga yang hanya diriwayatkan al-Bukhari atau Muslim. Beliau Rahimahullah dalam menyampaikan hadits-hadits muttfaqun ‘alaihi bersandar kepada kitab al-Jam’u baina ash-Shahihain karya al-Humaidi Rahimahullah.

Kitab Umdah al-Ahkaam telah mengalami beberapa cetak ulang, diantaranya:

      1. Cetakan Mathba’ah as-Sunnah al-Muhammadiyah, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Haamid al-Faqi, tahun 1371 H.
      2. Cetakan Daar al-Ma’aarif, dengan tash-hih Syaikh Ahmad Muhammad Syaakir, tahun 1371 H.
      3. Cetakan al-Mathba’ah as-Salafiyah, Mesir, tahun 1376 H, dengan pengawasan oleh Syaikh Muhibuddin al-Khathib.
      4. Cetakan Mathba’ah al-Manaar, Mesir, dengan perhatian dari Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dimasukkan ke dalam Majmu’ah al-Hadits an-Najdiyah (tahun 1342).
      5. Dicetak ulang secara terpisah oleh Daar as-Salaam.
      6. Cetakan Daar al-Ma’mun lit-Turats, tahun 1405 H, dengan tahqiq Syaikh Mahmud al-Arnauth.
      7. Cetakan dengan tahqiq Samiir bin Amin az-Zuhairi
      8. Cetakan Daar ath-Thayyibah beberapa kali, dan cetakan ketiganya tahun 1427 H di-tahqiq oleh Nazhar Muhammad al-Faariyaabi dengan tujuh naskah manuskrip.

Karena pentingnya kitab ini maka para ulama memberikan perhatian besar kepadanya sejak dahulu hingga sekarang dengan mensyarah dan mengajarkan serta memberikan komentar ilmiah terhadap kitab ini.

Diantara syarah kitab ini adalah :

  • Ihkaam al-Ahkaam Syarhu Umdatul Ahkaam (إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام) karya al-Hafizh Ibnu Daqiqul Aid (wafat tahun 702 H) mengalami beberapa cetakan, diantaranya:
  • Cetakan Daar ‘Alam al-Fikr, Mesir, dengan takhrij Thaha Sa’ad dan Mushthofa al-Hawaari dalam dua jilid.
  • Cetakan Muhammad Munir ad-Dimasyqi, Mesir, tahun 1342 H dalam dua jilid dan dipublikasikan oleh Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut.
  • Cetakan Daar al-Ma’aarif, dengan tash-hih Syaikh Ahmad Muhammad Syaakir, tahun 1371 H.
  • Cetakan al-Mathba’ah as-Salafiyah, Mesir, tahun 1376 H, dengan pengawasan oleh Syaikh Muhibuddin al-Khathib.
  1. Ihkaam al-Ahkaam Syarhu Umdatul Ahkaam (إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام) karya al-Hafizh Ibnu Daqiqul Aid (wafat tahun 702 H) mengalami beberapa cetakan, diantaranya:

–        Cetakan Daar ‘Alam al-Fikr, Mesir, dengan takhrij Thaha Sa’ad dan Mushthofa al-Hawaari dalam dua jilid.

–        Cetakan Muhammad Munir ad-Dimasyqi, Mesir, tahun 1342 H dalam dua jilid dan dipublikasikan oleh Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut.

  1. Al-‘Uddah bi Syarhi al-‘Umdah (العدة بشرح العمدة) karya Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani. Kitab ini adalah hasyiyah (pandangan ilmiah) terhadap kitab Ihkaam al-Ahkaam Syarhu Umdatul-Ahkaam. Kitab ini dicetak al-Mathba’ah as-Salafiyah, Kairo, tahun 1379 H dalam empat jilid dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Muhammad al-Hindi (wafat tahun 1419 H).
  2. Al-I’laam bi Fawaa’id ‘Umdah al-Ahkaam (الإعلام بفوائد عمدة الأحكام) karya al-Haafizh Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin ‘Ali bin Ahmad al-Anshaari yang dikenal dengan Ibnu Mulaqqin (wafat th. 804 H). Kitab ini dicetak pertama kali dalam lima jilid oleh Daar al-‘Ashimah dengan tahqiq Syaikh Abdulaziz bin Ahmad bin Muhammad al-Musyaiqih. Kemudian disempurnakan menjadi 11 jilid dengan kata pengantar dari Syaikh Shaaih bin Fauzan Alu Fauzan dan Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid.
  3. Khulashah al-Kalaam Syarhu ‘Umdah al-Ahkaam (خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام)  karya Syaikh Faishal bin Abdulaziz Ali Mubaarak (wafat tahun 1376H). Kitab ini telah dicetak beberapa kali, diantaranya cetakan kedua diterbitkan Maktabah an-Nahdhah dan al-Maktabah al-Ahliyah di Riyadh (tahun 1379H) dan Maktabah ar-Rusyd (tahun 1412 H).
  4. Aqwaal al-A`imah al-A’laam bi Syarhi Umdah al-Ahkaam (أقوال الأئمة الأعلام بشرح عمدة الأحكام), yang juga merupakan karya Syaikh Faishal bin Abdulaziz Ali Mubaarak, dan belum diterbitkan.
  5. Khulashah al-Kalaam ‘ala ‘Umdah al-Ahkaam (خلاصة الكلام على عمدة الأحكام) karya Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Shalih al-Basaam (wafat tahun 1423H) dicetak oleh Mathba’ah al-Fajaalah al-Jadidah, Kairo.
  6. Taisiir al-‘Alaam Syarhu ‘Umdah al-Ahkaam (تيسير العلام شرح عمدة الأحكام) karya Syaikh Abdullah bin Abdurahman bin Shalih al-Basaam. Kitab ini pertama kali dicetak pada tahun 1380 H oleh Mathba’ah al-Madani, Kairo dalam dua jilid, dan telah mengalami beberapa kali cetak. Terakhir dicetak dengan lebih baik oleh Daar al-Maimaan (tahun 1426H) dalam dua jilid dan diawasi langsung oleh anak beliau yang bernama Basaam bin Abdillah al-Basaam.
  7. Ta’siis al-Ahkaam ‘ala maa Shahha ‘an Khairi al-Anaam bi Syarhi Ahaadits ‘Umdah al-Ahkaam (تأسيس الأحكام على ما صح عن خير الأنام بشرح أحاديث عمدة الأحكام) karya Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi. Kitab ini dicetak secara sempurna sebanyak 5 jilid oleh Daar al-Minhaaj, Mesir (tahun 1427H).
  8. Al-Ilmaam bi Syarhi ‘Umdah al-Ahkaam (الإلمام بشرح عمدة الأحكام) karya Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Anshari (wafat tahun 1417 H).

Syarah ini cukup ringkas dan mudah sehingga dijadikan buku pegangan pembelajaran bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), setara Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Kerajaan Saudi Arabia hingga tahun 1397H. Dicetak beberapa kali, diantaranya oleh Maktabah ar-Riyaadh (tahun 1392H) dan Mathba’ah as-Sa’adah, Mesir (tahun 1400H).

  1. Tambiih al-Afhaam Syarhu ‘Umdah al-Ahkaam min Kalaam Khairi al-Anaam (تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام من كلام خير الأنام) karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat tahun 1421H).

Kitab ini menjadi buku pegangan siswa tingkat MTs dan Ma’had Ilmiyah semenjak tahun ajaran 1397/1398H, dicetak dalam 3 juz, dan terakhir digabung dalam satu jilid oleh Daar al-Bashirah, Mesir.

  1. Nail al-Maraam Syarhu ‘Umdah al-Ahkaam (نيل المرام شرح عمدة الأحكام) karya Syaikh Hasan bin Ismail an-Nuuri dan Syaikh ‘Alwi bin Abas al-Maaliki (wafat tahun 1391H). Dicetak dalam beberapa cetakan, diantarnya oleh Mathaabi’ Syarikah asy-Syamarli, Mesir (tahun 1392H).
  2. Al-‘Uddah Syarhu al-‘Umdah fii Ahaadits al-Ahkaam (العدة شرح العمدة في أحاديث الأحكام) karya ‘Alauddin Ali bin Dawud bin al-‘Athaar asy-Syaafi’i (tahun 654-724 H) dicetak dengan wakaf dari Syaikh Nizhaam Muhammad Shalih Ya’qubi, dan diterbitkan Daar al-Basyaa`ir, Libanon (tahun 1427H).

Masih banyak lagi syarah kitab ‘Umdah ini yang masih dalam bentuk naskah manuskrip.

  1. Ihkaam al-Ahkaam ash-Shaadirah min baini Syafatai Sayyid al-Anaam, karya Syamsuddin Abu Umamah Muhammad bin ‘Ali bin Abdilwahid an-Naqaasy al-Maghribi al-Mishri (tahun 720-763H).

Kitab ini ditahqiq oleh Dr. Rif’at Fauzi Abdulmuthalib dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1409H oleh Maktabah al-Khaanji, Kairo.

  1. Al-Ahkaam al-Kubra, karya Majduddin Abdussalam bin Abdullah bin Abu al-Qaasim bin Abdillah bin Taimiyyah al-Harani (wafat tahun 653 H). Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam kitab  Dzail Thabaqaat al- Hanabilah menyatakan: “Kitab tersebut terdiri dari beberapa jilid”.
  2. Al-Muntaqa min Akhbaari Musthafa (المنتقى من أخبار المصطفى), kitab ini juga merupakan karya Majduddin Abul Barakaat Abdussalam bin Abdillah bin Abu al-Qaasim bin Abdillah bin Taimiyyah.

Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Ahkaam al-Kubra, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam biografi al-Majdi Ibnu Taimiyah dalam kitab Dzail Thabaqaat al-Hanabilah, dan telah dicetak. Kitab ini berisi 5.029 hadits yang menjadi sumber dasar hukum-hukum fikih, dan disusun sesuai tertib bab-bab pembahasan fikih, dengan mencantumkan ulama yang mengeluarkannya tanpa menjelaskan derajat hukum hadits tersebut.

Kitab ini adalah kitab yang bagus dan mencakup umumnya hadist hadits tentang fikih. Hampir tidak didapatkan satu masalah fikih –apalagi dalam madzhab Hanabilah- kecuali didapatkan dalilnya di kitab ini. Seakan-akan menjadi dalil masalah-masalah fikih hambali. Sudah dimaklumi para ulama berkhidmah kepada madzhab mereka dengan menulis kitab-kitab berisi hadits-hadits yang dijadikan dalil dalam madzhabnya.

Banyak ulama telah mensyarah kitab ini, misalnya:

–        Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi al-Maqdisi (wafat tahun 744H).

–        Al-Allamah Sirajuddin Umar bin Ali bin al-Mulaqqin (wafat tahun 804 H), tetapi tidak sampai tuntas.

–        Abul-Abbas Ahmad bin Muhsin al-Qadhi al-Hanbali (wafat tahun 771 H), juga tidak sampai selesai.

–        Al-Qadhi Muhammad bin Ali asy-Syaukani (wafat tahun 1255 H). Syarah beliau diberi nama Nailul Authar Syarhu MuntaqalAkhbaar.

Kitab Nailul Authar termasuk penjelas yang bagus untuk kitab al-Muntaqa ini dengan cara ahlul hadits dalam penjelasannya, karena asalnya kitab al-Muntaqa dibuat untuk mazhab hanabilah dan semestinya dijelaskan sesuai tujuaan tersebut. Namun ay-Syaukani seorang ahli hadits dan mujtahid serta memandang taklid tidak boleh bahkan mencela orang yang membolehkan taklid dalam kitabnya ini tidak mengikuti cara madzhab dalam menjelaskannya. Kitab ini adalah syarah yang bagus dan berisi faedah yang banyak sekali yang sangat dibutuhkan para thalibul ilmi (lihat keterangan ini di https://shkhudheir.com/fatawa/769982147 ).

Dalam syarah-nya ini, Imam Syaukani banyak mengambil metoda dan meringkas penjelasannya dari kitab Fathul-Baari Syarhu Shahih al-Bukhari dalam masalah Fiqhiyyah. Dalam meringkas takhrij hadits juga cukup bagus dan baik. Pertama kali kitab Nailul-Authar ini dicetak oleh al-Mathba’ah al-Faaruuqiyah, New Delhi, India (tahun 1296H). Kemudian kitab ini ditahqiq oleh Thaariq bin ‘Audhullah bin Muhammad dari dua naskah manuskrip dan dicetak menjadi tiga jilid oleh penerbit Daar Ibnu al-Jauzi (tahun 1423H).

Kitab Nailul-Authar ini juga telah dijadikan sebagai sumber penelitian oleh Dr. Muhammad Umar Bazamul terkait penulisnya, yaitu Al-Qadhi Muhammad bin Ali asy-Syaukani serta usaha dan jasa-jasanya dalam permasalahan hadits-hadits ahkaam. Melalui penelitiannya ini, Dr. Muhammad Umar Bazamul berhasil mendapatkan gelas Master dalam Syariat Islamiyah dari Universitas Ummu al-Quraa`, Mekkah, dan disertasi penelitiannya ini kemudian dicetak pada tahun 1424H oleh Daar al-Basyaa`ir, Beirut.

Ketertarikan terhadap kitab Nailul-Authar juga nampak dari Syaikh Faishal bin Mubaarak yang telah melakukan ringkasan terhadap kitab ini dan diberi judul Bustaan al-Akhbaar Mukhtashar Nail al-Authaar. Demikian juga Syaikh Khalid al-‘Ak juga meringkasnya, dan diterbitkan Daar al-Hikmah pada tahun 1409 H. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Raasyid juga telah menyusun hadits-hadits Nail al-Authaar dengan nama Tanwiir Uli al-Abshaar bi Tartîb Ahaadits Nail al-Authaar, dan diterbitkan Daar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut (tahun 1413H).

–        Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin men-syarah juz pertama kitab al-Muntaqa, yaitu sampai dengan masalah Jaami’ Ad’iya` Manshushun ‘alaiha fii ash-Shalat, dan telah dicetak pada tahun 1426H oleh Daar al-Muhaddits.

–        Syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baaz men-syarah jilid pertama kitab al-Muntaqa, dan direkam dalam kaset.

  1. Al-Ilmam fii Bayani Adillatil-Ahkaam, karya al-Izz bin Abdussalam (wafat tahun 660H). Kitab ini di-tahqiq oleh Dr. Ali bin Muhammad Syarif, Universitas Muhammad bin Saud al-Islamiyah pada tahun 1404H.[6]
  2. Al-Ilmam fii Ma’rifat Ahaaditsil-Ahkaam, karya Taqiyuddin Abil-Fattah Muhammad bin Ali bin Wahb. Beliau masyhur dengan sebutan Ibnu Daqiqul-Aid (wafat tahun 702H). Kitab ini telah di-tahqiq Syaikh Dr. Sa’ad bin ‘Abdillah al-Humaid, dan telah terbit dalam empat jilid besar, dengan rincian jilid pertama 618 halaman, jilid kedua 571 halaman, jilid ketiga 599 halaman, dan jilid keempat 380 halaman, dengan indeks dan referensi. Diterbitkan oleh Daar at-Tahqiiq, Riyadh, KSA. Kitab ini termasuk kitab yang besar dan banyak sekali faedahnya. Ibnu Daqiqi ied berusaha mengumpulkan seluruh hadits hadits berkenaan dengan hukum fikih dalam kitab ini.
  3. Al-Ilmam fii Ahaaditsil-Ahkaam, karya Taqiyuddin Abil-Fattah Muhammad bin Ali bin Wahb al-Mishri al-Qusyairi. Kitab ini sudah dicetak. Haajie Khalifah mengomentari penulisnya, ia berkata, “Dia (masyhur dengan sebutan Ibnu Daqiqul-Aid) telah mengumpulkan matan hadits-hadits yang terkait dengan hukum tanpa sanad, kemudian men-syarah-nya dengan baik dan memberi nama al-Ilmam … Ada yang menyebutnya, beliau tidak pernah menulis kitab hadits sejenis yang lebih bagus dari kitab ini karena manfaat dan cara pengambilan hukumnya, namun ia tidak menyelesaikan kitab ini. Kemudian al-Baqa’i dalam Haasyiah kitab Alfiah-nya menyebutkan, bahwa ia telah menyempurnakan kitab tersebut, tetapi tidak didapatkan kitab ini setelah wafatnya kecuali sedikit. Seandainya saja ada, niscaya orang tidak perlu lagi syarahsyarah yang lain”.[7]

Kitab ini telah di-tahqiq dan di-takhrij haditsnya oleh Hushain bin Isma’il al-Jamal, diterbitkan Daar al-Mi’raaj, Riyadh. Cetakan pertamanya tahun 1414H terbit dalam dua jilid.

Diantara ulama yang men-syarah kitab ini adalah:

–        Penulis sendiri, yaitu Ibnu Daqiqul-Aid, sebagaimana telah disampaikan oleh Imam al-Haafizh adz-Dzahabi. Adapun Syaikhul-Islam menyatakan, tidak ada seorang pun yang berbuat seperti beliau, tidak juga adh-Dhiya`, dan tidak pula kakekku, Abu al-Barakaat.

Syarah Ibnu Daqiqul-Aid ini di-tahqiq seperenamnya oleh Syaikh Abdulaziz bin Muhammad as-Sa’iid sebagai disertasi S2 (Magister) pada jurusan as-Sunnah wa ‘Ulumuha Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, KSA. Syarah-nya tersebut telah diterbitkan Daar Athlas, Riyadh pada tahun 1418H dalam dua jilid. Jilid pertama 464 halaman dan jilid kedua 360 diluar indeks isi dan referensi. Dan hadits yang di-syarah dalam dua jilid ini hanya berjumlah tujuh hadits saja.

–        Al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Nashiriddin ad-Damsyiqi (wafat tahun 842H).

–        Al-Qaadhi Yusuf bin Hasan al-Hamwi (wafat tahun 809H).

Kitab ini telah diringkas oleh al-Haafizh Qathbuddin Abdulkarim bin Munayyir al Halabi (tahun 664-735H) dengan judul al-Ihtimaam bi Talkhish kitab al-Ilmaam, diterbitkan Mu`assasah al-Kutub ats-Tsaqafah, Bairut, tahun 1410H.

  1. Al-Muharrar fii Ahaaditsil-Ahkaam, karya al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Qudaamah al-Maqdisi, dikenal dengan Ibnu Abdil-Hadi (wafat tahun 744H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Ilmam, karya Ibnu Daqiqul-Aid.

Syaikh Abdulmanaan Abdullathif al-Madani, seorang peneliti di Markas Bin Baaz untuk penelitian Islam (Markaz al-‘Alamah bin Baaz lid-Dirasaat al-Islamiyah) di Jami’ah Ibnu Taimiyyah di India telah berbicara tentang karakteristik dan manhaj penulis kitab ini dalam Muqadimah beliau dalam tahqiq kitab ini. Kitab ini dicetak markaz dan diterbitkan Daar ad-Daa’i, pada Rabi’ al-Awwal 1422H dalam dua jilid, dan dibawah pengawasan Dr. Muhammad Luqmaan as-Salafi.

Jumlah halamannya mencakup 920 dengan 1.320 hadits. Keistimewaan cetakan ini, yaitu adanya keterangan faidah (manfaat/pelajaran) dan pandangan secara ilmiah terhadap hadits-hadits tersebut yang diambil pen-tahqiq dari kitab-kitab syarah hadits yang terkenal seperti, al-Minhaaj (Syarah Shahih Muslim) karya Imam an-Nawawi, al-Ikmaal karya al-Aabi, Fathu al-Baari, ‘Aunul-Ma’bud, Tuhfat al-Ahwadzi, Subul as-Salam dan Taudhih al-Ahkam, serta kitab lainnya dari karya-karya para ulama. Beliau namakan komentar-komentarnya ini dengan ‘Aun al-Mughits fii Syarhi al-Muharrar fii al-Hadits.

Kitab al-Muharrar, sebelumnya juga telah diterbitkan dalam beberapa cetakan diantaranya:

  1. Cetakan daar aal-Atha` dengan tahqiq ‘Adil al-Hadbaari dan Muhammad ‘Alyuusy
  2. Cetakan dengan tahqiq Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Muzaini al-Maaliki.
  3. Cetakan Syaikh Dr. Yusuf Abdurrahman al-Mar’asyli dan Muhammad Saliim Samaarah serta Jamaal Hamdi adz-Dzahabi, dan dicetak Daar al-Ma’rifah, Libanon tahun 1421 H dalam satu jilid tebal dengan jumlah 848 halaman beserta indeksnya.
  4. Cetakan Syaikh Saliim bin ‘Iid al-Hilaali dicetak tahun 1425H oleh Daar Ibnu Hazm, Libanon dalam tiga jilid, dan di-tahqiq dengan membandingkan lima manuskrip.
  5. Dalaail al-Ahkam, karya Bahauddin Ibnu Syadaad (wafat tahun 632H).
  6. TaqribulAsaanid wa TartibulMasaanid, karya Zainuddin Abul-Fadhal Abdurrahim bin Husain al-Iraqi (wafat tahun 806H). Kitab ini sudah dicetak. Beliau Rahimahullah juga men-syarah dalam kitabnya, Tharhul-Tatsrib fii Syarhit-Taqrib namun beliau wafat sebelum bisa menyelesaikannya. Kemudian anak beliau yang bernama Waliyyul al-Din Ahmad bin Abdurrahim al-Iraqi (wafat tahun 862H) menyempurnakannya.
  7. Fathu al-Alaam bii Syarhi al-I’laam bi Ahaadits al-Ahkaam (فتح العلام بشرح الإعلام بأحاديث الأحكام), karya Syaikh Islam Abu Yahya Zakariya al-Anshaari (wafat tahun 925H). Kitab ini berisi 619 hadits dicetak dalam satu jilid setebal 768 halaman berikut indeksnya, diterbitkan Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Libanon, dan di-tahqiq Syaikh Ali Muhammad Mu’awwad dan Syaikh ‘Aadil-Ahmad Abdulmaujud.
  8. ‘Uquud al-Jawaahir al-Muniifah fii Adillati Madzhab al-Imam Abi Hanifah mimmaa Waafaqa fiihi al-Aimmah as-Sittah auw Ahadihim (عقود الجواهر المنيفة في أدلة مذهب الإمام أبي حنيفة مما وافق فيه الأئمة الستة أو أحدهم), karya al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadha az-Zabidi (1145-1205H). Kitab ini dicetak dalam dua juz dengan tahqiq as-Sayyid Abdullah Hasyim al-Yamaani al-Madani, diterbitkan Mathba’ah asy-Syabkasyi, al-Azhar Mesir pada tahun 1382 H. Kitab ini juga di-tahqiq oleh Syaikh Wahbi Sulaiman Ghaawaji al-Albani, dan diterbitkan Muassasah ar-Risaalah tahun 1406 H dalam dua juz.
  9. Majmu’ al-Hadits ‘ala Abwaab al-Fiqh (مجموع الحديث على أبواب الفقه), karya Syaikh Muhammad bin Abdulwahab (1115-1206 H). Kitab ini berisi 4.600 hadits selain kitab al-Faraa`idh dan kitab al-Itqi. Kitab Majmu’ ini dicetak oleh Jami’ah al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyah dalam empat jilid, dan dimasukkan ke dalam Majmu’ah Mu`allafaat al-Imâm Muhammad bin Abdulwahab dengan tahqiq Dr. Mahmud Muhammad ath-Thahaan dan Dr. Khalil Mulaa Ibrahim Khaathir.
  10. Fathu al-Ghafaar al-Jaami’ li Ahkaami Sunnati Nabiyina al-Mukhtaar (فتح الغفار الجامع لأحكام سنة نبيناالمختار), karya al-Qaadhi al-Hasan bin Ahmad ar-Rubaa’i (1200-1276H). Kitab ini berisi 6.529 hadits dan dicetak oleh Daar ‘Aalam al-Fawaa`id, Makkah (tahun 1427H) dengan takhrij oleh sejumlah pelajar di bawah arahan Syaikh Ali bin Muhammad al-‘Imraan.
  11. Atsaar as-Sunan ma’a at-Ta’liq al-Hasan wa Ta’liq at-Ta’liq (آثار السنن مع التعليق الحسن وتعليق التعليق), karya Syaikh Muhammad Ali an-Naimawi (wafat tahun 1322H). Kitab ini berisi 1.114 hadits yang menjadi induk dalil dalam fikih madzhab Hanafi dan di-tahqiq oleh Maulana Faidh Ahmad, diterbitkan Maktabah al-Imdaadiyah.
  12. Anjah al-Maa’ii fii al-Jam’i baina Shifatai as-Saami’ wa al-Waa’ii (أنجح المساعي في الجمع بين صفتي السامع والواعي), karya Syaikh Falih bin Muhammad azh-Zhahiri al-Madani (wafat tahun 1238H). Kitab ini dicetak beberapa kali, diantaranya tahun 1391M sebagai cetakan kedua dengan tahqiq as-Sayyid Abdullah Haasyim al-Yamaani, kemudian di-ta’liiq dan di-takhrij oleh Ibrahim bin Abdillah al-Haazimi. Beliau menamakan takhrij-nya ini dengan Ifadat al-Qaari bi Takhrij Ahaadits Anjah al-Masaa’i, diterbitkan Daar asy-Syariif, Riyaadh, tahun 1414H.
  13. Ushul al-Ahkaam (أصول الأحكام), karya Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qaasim al-Hambali an-Najdi (1312H-1392H). Kitab ini di-syarah oleh penulisnya sendiri dalam kitab al-Ihkaam Syarh Ushul al-Ahkaam yang dicetak dalam 4 jilid, dan cetakan ketiganya tahun 1406H.
  14. Shafwah al-Ahkaam min Nail al-Authaar wa Subulussalam (صفوة الأحكام من نيل الأوطار وسبل السلام), karya Dr. Qahthaan Abdurrahman ad-Duuri, diterbitkan al-Furqaan lin-Nasyr, Yordania, cetakan pertaman tahun 1419H.
  15. Al-Muntakhab min Adillati asy-Syari’at (المنتخب من أدلة الشريعة), karya Syaikh Ahmad bin Abdirrahman bin Muhammad bin Qaasim, dicetak oleh al-Mathaabi’ al-Ahliyah lil-Ofset, Riyaadh, cetakan pertama tahun 1405H.
  16. Ahaadits al-Ahkaam (أحاديث الأحكام), karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Syaikh. Kitab ini terdiri dari 100 hadits yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti KSA. Hal ini disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Qaasim dalam muqaddimah Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Syaikh.
  17. Bulughul-Maram min Ahaditsul-Ahkam (بلوغ المرام من أدلة الأحكام ), karya al-Hafizh Abil-Fadhl Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhamamd al-Kinaani. Beliau dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat tahun 852H). Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits yang dijadikan oleh para fuqaha sebagai tempat pengambilan hukum-hukum fiqh dengan memberikan penjelasannya sesudah para imam yang meriwayatkan hadits tersebut, berikut darajat haditsnya shahih atau dha’if. Kitab ini tersusun sangat sistematis berdasarkan bab-bab fiqh, kemudian pada bagian akhir buku ini dimasukkan juga pembagian yang lain tentang hadits adab, akhlak, dzikr dan doa, sehingga jumlah hadits di dalamnya mencapai sekitar 1.596 hadits.

Beliau menyampaikan dalam Muqaddimah kitabnya ini sebagai berikut:

“Kitab ini merupakan ringkasan yang mencakup pokok dalil-dalil dari hadits-hadits yang berkenaan dengan hukum-hukum syar’i. Aku pilihkan secara teliti agar orang yang menghafalnya menjadi menonjol diantara sejawatnya, dan dapat membantu para pelajar pemula, serta para mujtahid tidak akan merasa cukup dengannya…”.

Demikianlah beberapa kitab hadits al-Ahkaam yang dapat dipaparkan, dan sungguh sesuatu yang sangat sulit -kalau tidak dikatakan mustahil- untuk menjelaskan dan menyebutkan kitab-kitab al-Ahkaam seluruhnya. Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat, memberikan ilustrasi tentang usaha-usaha dan jasa yang telah dilakukan oleh para ulama dalam menunjukkan kepedulian, kecintaan dan menyebarkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada ummat.

Wa billahit-taufiq.

[1] Diambil dari Muqaddimah Al Khothib al-Baghdady, Abu Bakar Ahmad bin Ali (Wafat tahun 463 H), Tarikh Al Baghdadi, Tahqiq Basyaar ‘Awaad Ma’ruf, Cetakan pertama tahun 1422H-2002M, Daar al-Gharb al-islami, Bairut, Libanon hlm 1/3.

[2] lihat Syaraf Ash-hab Al Hadits karya Al Khothib al-Baghdadi hlm 8-9.

[3] kitab Bayân al Wahm wa Al Ihâm telah dicetak dalam enam jilid.

[4]  Penulis memiliki jilid yang kedua saja.

[5] Lihat tentang tiga kitab ini: ar-Risalah al-Musthatrifah karya al-Katani (178 – 179)

[6]     Lihat lagi al-muharrir karya Ibnu adil Hadi: 1/ 64 dari muqaddimah Muhaqqiq

[7]     Haajie Kholifah: Kasyful Zhunun: (1 / 158)

Related posts

Tiga Wasiat Agung Nabi

Klik UK

Antara Syukur dan Sabar

Klik UK

Istighfar

Klik UK